Daun-Daun Pahala

Kehidupan orang-orang di kampung ini pun berjalan wajar, bagai tak pernah ada perempuan bernama Rubay yang pernah hidup bersama mereka selama ini. Namun pada hari ke delapan menghilangnya Mak Rubay, kampung ini mendadak gempar. Perempuan yang sehari-harinya hidup sendiri itu ditemukan mati membusuk di rumahnya. Namun sayang, usai jasadnya dikebumikan, kematian itu tak membuat mulut-mulut keji berhenti menggunjingnya. Orang-orang menuding Mak Rubay mati lantaran terkena azab Tuhan.

Ingin rasanya aku menceritakan bagaimana Mak Rubay menginsafi dosa-dosanya. Tapi aku ragu mereka akan percaya. Hati yang telah kadung membenci, biasanya sulit untuk melihat kebenaran. Oleh sebab itu, aku memilih diam. Aku yakin, Tuhan telah menerima amalan Mak Rubay, meski hanya sehelai daun angsana. Ucapannya sore itu masih terngiang-ngiang di telingaku, biarlah daun-daun itu yang menjadi saksi. Biarlah daun-daun itu yang menjadi saksi… (*)

 

 Adam Yudhistira bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Karya cerpen, cerita anak, esai, puisi dan ulasan buku tersiar di berbagai media cetak dan daring. Ia mengabdikan diri mengelola Taman Baca Masyarakat Palupuh untuk anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Buku terbit berupa kumpulan cerita pendek Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

Arsip Cerpen di Indonesia