Aku ingin mencegah tindakan mereka, namun aku tak ingin permasalahan berkembang semakin buruk. Aku bisa merasakan kesedihan Mak Rubay. Tapi aku tak memiliki keberanian menyampaikan pesan-pesan yang diucapkannya padaku seminggu yang lalu. Perempuan renta itu memandangku sayu, seolah mengharap pertolongan. Aku menunduk dan tak sanggup mengangkat wajah.
Hatiku seperti teriris-iris saat menatap wajah orang-orang yang memandang bengis pada Mak Rubay. Ia duduk bersimpuh dan dijauhkan dari halaman surau, dijaga sekelompok ibu-ibu, seperti seorang pesakitan yang pasrah menunggu suatu hukuman.
“Aku hanya ingin memunguti daun-daun itu,” ratapnya dalam tangis yang menghiba.
“Aku bersumpah demi Allah, aku tak akan menginginkan lebih dari itu.”
Kang Japri yang bertugas menebang pohon angsana dengan gergajinya, memandang hina pada Mak Rubay. Ia terkekeh dan berujar, “Itu hanya daun, Mak Rubay. Bukan uang. Masih banyak pohon lain yang bisa kaupunguti setiap hari, tapi jangan harap orang mau membayar bunganya.”
Perkataan tajam itu disambut tawa orang-orang. Mak Rubay menunduk masygul. Ia tak lagi berkata-kata. Namun diamnya perempuan tua itu, membuat kasak-kusuk berisi sindiran menusuk hati semakin berlesatan.
“Mungkin dikiranya pohon ini pohon uang. Rupanya tak bisa lagi mata rabunnya itu membedakan uang dan daun-daun,” celetuk seorang ibu-ibu muda disambut gelak tawa orang-orang.
Saat pohon angsana itu berdebam tumbang, kulihat air mata Mak Rubay menetes. Ia berdiri lunglai, lalu berjalan menjauhi halaman surau. Tak ada orang yang peduli dan memperhatikannya lagi. Tubuh ringkihnya bergerak lamban, lalu menghilang di balik tikungan jalan setapak. Aku merasakan kekosongan yang dalam dan entah kenapa, aku merasa itu adalah pertemuan terakhirku dengan Mak Rubay.
***
Satu minggu usai pohon angsana di halaman surau itu ditebang, tak pernah lagi terlihat sosok Mak Rubay. Ia juga tak terlihat lagi di beranda surau. Tidak tampaknya perempuan tua itu membuatku merasa kehilangan. Namun kehilangan itu hanya aku yang merasakan, sebab orang-orang tak ada lagi yang membicarakan Mak Rubay.