Daun-Daun Pahala

“Kenapa?” tanyaku heran, “apa artinya pohon itu?”

Mak Rubay terdiam. Bibirnya bergerak-gerak pelan, seolah ragu untuk menjawab. Untuk beberapa saat, aku menunggu ia menjelaskan maksudnya. Persis seperti dugaanku semula, ada kesedihan yang disimpan perempuan renta ini di balik matanya. Ia tiba-tiba menangis, dan membuatku canggung dan tak mengerti.

“Aku hanyalah orang tua yang bodoh,” jawabnya sambil mengusap air mata yang bergulir lamban di pipinya yang keriput.

“Amalanku sangat sedikit, dan itu pun mungkin tak akan cukup untuk menghapus dosa-dosaku di masa lalu. Sehingga kelak di akhirat aku hanya mengharapkan apa yang telah kuperbuat untuk surau ini dapat menyelamatkanku. Karenanya, setiap memungut sehelai daun, aku mengucapkan satu selawat kepada nabi, dan biarlah daun-daun itu menjadi saksi.”

Hatiku berderak mendengar pengakuan itu. Rasa kelu yang berkelindan di dada membuat bibirku mengunci rapat dan tak sanggup mengucapkan apa-apa. Perempuan renta ini ternyata telah menyerahkan segala yang ia miliki untuk menebus dosa-dosa masa lalunya.

“Aku tak mau masuk neraka,” ucapnya di sela sedu sedannya yang kian terdengar pilu. Ia berdiri gontai, lalu meninggalkanku duduk sendirian di beranda surau, “aku tahu aku orang yang banyak dosa. Aku tak punya apa-apa untuk membuat orang-orang di kampung ini bahagia,” lanjutnya sambil lalu.

Aku menghela napas berat . Kupandangi tubuh lengkung itu dengan hati perih. Rasanya seperti ada duri yang tertanam di balik rongga dadaku. Duri itu naik ke kepala, mendekam di pelupuk mata dan melubangi kantung air mata, sehingga bulir-bulir air hangat meluncur satu persatu ke pipi tanpa terasa.

***

Siang itu, selepas salat Jumat, seluruh jamaah laki-laki telah berkumpul untuk melakukan kerja bakti. Dari hasil kesepakatan bersama, diputuskan untuk menebang pohonangsana di depan surau. Pohon itu dianggap telah lapuk dan takut roboh menimpa para jamaah. Namun niat itu sedikit tertunda, sebab Mak Rubay datang tiba-tiba dan memeluk pohon itu sambil meraung-raung.

Kericuhan pun terjadi dan orang-orang mulai sibuk menghalau Mak Rubay. Sekelompok ibu-ibu mencekal lengan perempuan renta itu atas perintah Haji Hambali, datuk surau kampung Lubuk Kasui. Mereka menyeretnya dari halaman karena dianggap mengganggu orang-orang yang ingin memugar surau.

Arsip Cerpen di Indonesia