“Laki-laki itu pengecut! Domisilinya tidak diketahui. Kalaupun dia mau bertanggung jawab, tidak saya izinkan dia menjadi suami Rahma. Belum resmi menjadi istrinya, dia tega menghancurkan masa depan Rahma. Apalagi kalau sudah resmi menjadi istri, maka dia akan semena-mena terhadap Rahma. Saya tak mau Rahma jadi korban KDRT.”
Akhirnya demi menutup aib yang mendera Rahma dan keluarganya, kuterima keinginan dokter Hidayah untuk menikahi anaknya. Ironisnya, meski sudah sah menjadi istriku, Rahma tak menunjukkan sosok sebagai seorang istri. Dia lebih suka bertandang ke rumah teman-temannya daripada menemaniku. Namun, aku dapat memaklumi kondisi tersebut. Sebab mungkin dia tidak menyukai aku sebagai pasangannya. Lagi pula usianya ketika itu masih 19 tahun.
“Rahma, abang menikahimu bukan sebatas menutup aib.”
“Mau menutup aib, atau membuka aib. Nggak urusanku.”
“Abang sayang sama kamu, dan anak yang ada dalam kandunganmu.”
“Tidak perlu!” ujar Rahma dengan ketus.
“Ingat, Bang, jika aku sudah melahirkan, abang boleh meninggalkan aku, dan kalau perlu anak ini, abang bawalah. Jadikan anak asuh,” sambung Rahma dengan seenaknya.
Aku tetap bertahta dalam kerajaan kesabaran. Kubendung sekuat-kuatnya air mata yang dapat seketika membanjiri kamar tidur kami. Aku tak mau mahligai rumah tanggaku terbakar api iblis. Api yang menjilat dinding bahtera kami dapat dipadamkan dengan siraman air sejuk dari langit.
Permainan sandiwara Rahma di hadapan keluarganya berjalan mulus. Rahma sukses melakonkan sebagai sosok istri yang peduli dan setia kepada suami. Bahkan dalam acara keluarga, Rahma berani menunjukkan tokoh berwatak penuh kemesraan kepadaku. Dia sering menggandeng tanganku.
Pada bulan kesembilan kehamilannya, Rahma agak berubah kepadaku. Dia menunjukkan kemanjaannya kepadaku. Bahkan dia selalu ingin bersama denganku. Aku merasa senang dan bahagia, walaupun hatiku mengguratkan prasangka tak baik, kalau sikap Rahma hanya sebatas ketakutan menghadapi masa persalinan, sehingga butuh teman yang mendapingi. Entahlah!
Aku tak mempersoalkan itu. Bagiku yang terpenting, Rahma akan kujaga dan kudampingi saat melahirkan anaknya. Aku telah diamanahkan ayahnya menjadi suaminya dalam ijab qobul pernikahan. Aku tidak mau mengingkari itu, walaupun anak yang dilahirkan Rahma bukan darah dagingku. Tapi aku telah konsekwen akan menjadi sosok ayah bagi anak Rahma.