Menggapai Istigfar

Rahma menceritakan mimpinya dengan detail. Sesosok lelaki berjubah putih mengajaknya berjalan ke kompleks perkuburan. Sosok itu membawa Rahma duduk tafakur.

“Anakku, perhatikan hamparan makam itu. Semua diam dan beku,” kata lelaki tua berjubah putih.

“Satu huruf pun tak mampu mereka ucapkan. Secuil langkah tak bisa mereka lakukan. Mereka tinggal seonggok jasad, Kak.”

“Kamu pun akan seperti mereka,” kata sosok itu dengan suara keras.

Rahma terpelanting mendengar suara itu. Berselang kemudian sosok berjubah putih sudah berada di dekat Rahma.

“Orang yang hidup hanya datang sesaat berziarah. Mengenangmu dan mengusap batu nisan. Kemudian mereka pulang dengan perjalanan dunianya. Kamu terus terbujur, tanpa teman. Gelap dan kelam. Apa yang bisa diandalkan menjadi teman?”

Wajah Rahma semakin pucat. Badannya dingin dan gemetar.

“Amal ibadah. Cuma itu yang menjadi teman setia,” ujar sosok itu.

“Bertaubatlah! Waktu kematian pasti akan datang!”

Sejurus kemudian sosok lelaki tua itu menghilang ke balik perjalanan waktu.

Rahma masih memelukku dengan erat. Aku dapat merasakan ketakutan yang bermain di bathinnya. Untuk melenyapkan permainan mimpi yang masih bertengger di kepalanya, kucium lembut keningnya. “Istiqfarlah,” ajakkku.

Rahma menatapku. Aku paham, dia minta dituntun. “Astagfirullah hal Aazim,” kataku menuntun.

Dia pun mengikuti dan mengulangnya beberapa kali.

Berangsur wajah Rahma kembali bergairah. Kupeluk raga dan jiwanya dengan sentuhan cinta yang dalam. ***

Arsip Cerpen di Indonesia