Suatu subuh yang dingin dan hening, suara tangis bayi perempuan memecahkan kegundahanku. Telah lahir seorang anak manusia yang layak mendapatkan perlakuan manusiawi dari setiap insan di muka bumi. Dia bukan anak kotor. Dia lahir sebagai sosok yang memiliki fitrah yang suci. Dia tidak mempunyai kesalahan dan dosa.
“Ayah…ayah…ayah,” suara mungil berbisik di telingaku.
Segera aku menggeliat tersadar dari lamunan masa lalu. Seulas senyum kulemparkan kepada Rugaiya, anak Rahma, yang telah kuanggap sebagai anakku sendiri.
“Iya,” begitu panggilan manjaku kepada anak kami.
“Sudan minum cucu?” tanyaku menirukan bahasanya.
Bidadari kecil itu hanya menggangguk.
Aku tahu pasti, jika bidadari kecil itu bergayut di badanku, Rugaiya ingin keliling kompleks perumahan menaiki sepeda motor. Walaupun agak malas, karena kantuk menyerang mata, kupaksa kaki melangkah. Anak sekecil Rugaiya tidak mengerti kantuk yang merundukkan mata. Dia hanya butuh kesenangan. Kecewa tak boleh dihadiahkan kepada wajah bocah yang lugu dan polos.
“Lho…kamu lupa, Rahma?” tanyaku sekembali dari membawa Rugaiya berkeliling kompleks.
Rahma tenang saja seakan tidak ada peristiwa.
“Kita kan puasa. Mengapa kau minum susu itu?”
“Iya! Aku tahu ini bulan puasa,” jawab Rahma seakan tidak melakukan kesalahan.
“Kamu datang bulan?”
Rahma hanya menggeleng.
“Kamu sakit?”
Sekali lagi Rahma hanya menggeleng.
“Lalu mengapa kamu tidak puasa? Kamu sudah janji, bahwa tahun ini akan puasa dengan baik.”
“Aku belum bias.”
“Apanya yang belum bisa? Ingat, Rahma, waktu tidak pernah mau menunggu kita sampai bisa. Waktu akan terus berjalan mengikuti masa yang pasti akan berhenti suatu ketika”.
“Aku belum bisa puasa, dan sholat,” jawab Rahma enteng saja.
“Aku masih suka bermain dengan dosa,” sambung Rahma.
“Bermain dengan dosa, berarti kamu menyiapkan neraka di matamu.”