Menggapai Istigfar

Kubiarkan waktu berjalan menembus dinding hatiku yang kecewa, karena masih diterpa angin kegagalan mengajak istriku berjalan lurus menuju Surga. Keluargaku merupakan tanggung jawabku untuk menggandeng tangan mereka berjalan bersama menyusuri jalan berbunga yang mewangi. Sikap egois tak boleh dibiarkan menjalar melilit relung hati seorang suami. Karena pertanggungjawaban akan dilimpahkan kepadaku kelak di depan sidang pengadilan akhirat.

Menjelang berbuka puasa, di atas meja sudah terhidang beberapa potong kue putu bambu kesukaan Rahma.

“Kamu suka kue ini? Cicipilah!” kataku.

“Bagaimana rasanya?”

“Gurih dan nikmat,” jawab istriku sekenanya.

“Ya…gurih dan nikmat. Cuma sebatas lidah yang merasa nikmat dan gurih. Setelah sampai kerongkongan tanpa rasa. Bahkan esok akan berubah menjadi kotoran,” wejangan sederhana meluncur dari mulutku.

Rahma menahan ketidakpahaman makna wejanganku.

“Rahma sayang, orang yang tidak puasa menikmati kealpaannya sebatas lidah, setelah itu musnah. Tanpa makna apa-apa. Sedangkan orang yang berpuasa akan mera­sakan kenikmatan dan kegurihan beribadah seluruh jiwa raganya sepanjang masa, dan kelak kenikmatan itu kekal di akhirat.”

Rahma terbengong mendengarkan kalimat-kalimat religius yang mengalir bagai air dari hatiku.

“Sejak kapan abang jadi ustaz?”

“Sudah! Jangan ceramahi aku, Bang!”

Jurus yang kupertonton kepada Rahma tak membuat hatinya tertatih. Aku bukan sosok lelaki yang mudah menyerah dengan kegagalan. Kegagalan bukan batu panas yang beku. Kegagalan hanya sebuah cemeti kecil untuk memacu langkah semakin kencang berlari. Seribu jalan masih terbentang di hadapan yang siap untuk direngkuh.

Waktu kubiarkan lagi berjalan memasuki lorong hitam di hati Rahma. Sabun suci yang putih kusiapkan untuk melebur semua pekat hitam yang mewarnai gumpalan hatinya.

Aku terbangun dari tidur, karena suara Rahma terdengar menangis dan penuh ketakutan. Dia terduduk lesu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Kamu sakit?” tanyaku.

Rahma memelukku erat sekali. Seakan dia tak sudi untuk melepaskannya. Segumpal tangis mengalun sendu di pundakku.

“Apa yang kau sedihkan?”

“Aku mimpi.”

Arsip Cerpen di Indonesia