Ziarah

Dewi bergidik. Ada kengerian yang hadir. Mulutnya kelu untuk menjawab. Dialihkannya lagi matanya mencari monyet di dahan-dahan beringin. Namun keluarga kecil monyet itu sudah berada di pohon lain yang ada di dalam pemakaman. Mereka bergelantungan lincah. Menjerit-jerit. Mengusik tidur kelelewar yang bergelantungan. Sebagian kelelewar terjaga. Balas menjerit. Gaduh. Suara kepak. Mereka mengepak. Beterbangan. Memutar di atas pucuk pepohonan.

Sayap kelelawar yang hitam mengembang dan mengepak. Dewi, lagi-lagi, membayangkan sayap-sayap kematian. la membayangkan taring kelelawar yang mengintai urat lehernya. Wajah kematian mungkin seperti wajah kelelewar yang mirip anjing. Kegaduhan lekas mereda. Kelelawar itu kembali menyusup di rimbun pepohonan. Mengambil posisi untuk menggelantung lagi. Ini memang bukan waktu mereka untuk bangun. Masih terlalu siang. Siang yang terik dan sepi.

Keluarga monyet nampak meluncur turun pada akar-akar gantung, melompat ke jalan setapak yang dibalay batu-batu kecil. Jalan setapak yang membelah pemakaman. Jalan setapak yang diapit ratusan nisan. Keluarga monyet menghilang.

Dewi tak sadar melangkah ke gerbang makam, matanya mencari keluarga monyet Yang nampak hanya tebaran nisan di antara pohon-pohon. Ada kamboja di beberapa tempat sedang berbunga. Mekar semarak. Ada yang kuning, merah muda, dan ungu.

“Masuk saja, Neng! Tak ada salahnya ikut berdoa. Lihat mereka begitu khusyuk.” Lagi-lagi Nenek Tua sudah ada di sampingnya. Tangan kirinya nampak sedang menyusupkan korek api ke dalam gelungan rambut. Ada wangi daun terbakar. Api di sudut halaman pemakaman sedang menari-nari menghanguskan unggun daun-daun gugur.

Dewi mengikuti arah telunjuk nenek tua itu. Nampak kawan-kawannya sedang melingkar di sebuah makam. Mereka diam, menunduk. Mirip batu. Batu nisan. Ada saung kecil di sana, tak jauh dari makam yang sedang diziarahi.

“Ayo!” Nenek itu tersenyum lagi dengan bibir yang meleleh. Merah. Dewi teringat darah. Darah ibu dan ayahnya. Ia sedikit limbung. Bayangan darah itu melumuri pikirannya. Darah yangtumpah dari perut ibunya, dari dada ayahnya. Peristiwa yang terjadi di masa kecil menggulung benaknya. Tubuhnya bergetar. Bersandar pada gerbang makam.

Malam sudah larut ketika itu, Dewi yang terbiasa tidur dalam lemari belum lelap, ia masih bermain-main dengan semua tokoh dongeng yang sering diceritakan ibunya. Ia masih membayangkan hidup di Neverland. Selamanya menjadi anak-anak. Bermain. Terbang. Sesuka hati.

Arsip Cerpen di Indonesia