Ziarah

Suara tembakan merobek sepi. Kontan jerit kelelawar terbit di udara. Mereka beterbangan. Riuh suara kepak. Sebuah tembakan menyusui. Makin gaduh. Daun berguguran makin lebat.

Nenek Tua berdiri mematung. Tengadah. Melihat ke sudut asal suara tembakan. Sapu lidi diangkat tinggi-tinggi. Tangan kirinya menarik kain jarik. Wajahnya menegang. Marah.

“Anak sialan! Sudah berkali-kali dilarang berburu di sini! Mentang-mentang anak Lurah! Seenaknya saja judar-jedor! Hey! Pergi!” Nenek itu mengumpat sambil berlari memburu sosok hitam yang lekas menghilang di antara pohonan.

Dewi tegang melihat tiga sosok hitam kecil yang melayang bersama guguran daun. Tanpa sadar ia berlari di jalan setapak yang membelah makam. Menembus guguran daun. Kakinya terhenti dan langsung terjatuh ketika dia lihat dua ekor monyet terkapar, pecah kepalanya, sementara monyet kecil merangkak lemah memeluk salah satu monyet, mungkin ibunya. Monyet kecil itu menjerit-jerit

Dewi tersedu-sedu. Ia bersujud di hadapan tiga ekor monyet itu. Tangannya menggenggam daun-daun gugur. Mendadak tengadah. Menjerit. Menghamburkan daun-daun ke udara. Lantas merangkak. Tangannya menggapai-gapai ingin meraih monyet kecil yang sedang menarik-narik mayat ibunya.

Aki Kuncen berdiri, menatap Dewi dan monyet, menatap guguran daun. Teman-teman Dewi panik. Memburu. Tertahan melihat mayat monyet. Nenek Tua datang masih dengan wajah penuh kemarahan. Sapu lidi masih teracung, kain jarik masih ditarik di atas lutut

Dewi menangis makin histeris. Monyet kecil menjerit-jerit.

Nenek Tua melempar sapu lidi, lekas merengkuh Dewi. Menenangkannya. Aki Kuncen pelan menangkap monyet kecil. Mengelusnya. Mengambil dua mayat monyet

“Kuburkan! Kuburkan! Seperti mereka yang ditanam di sini!” Dewi masih menjeritjerit

Aki Kuncen menarik napas panjang. Teman-teman Dewi masih mematung.

“Ambil cangkul di saung kecil itu, Nak!” Nenek Tua berteriak sambil menahan rontaan Dewi. Mulut Nenek Tua lantas komat-kamit seperti merapal mantra. Dengan penuh kelembutan mengusap kepala Dewi sambil membujuknya untuk tenang.

Dua orang bergerak menggeledah saung kecil. Aki Kuncen memberi isyarat. Tanah tepat di mana dua monyet itu terjatuh. Dua lubang sudah nganga.

Arsip Cerpen di Indonesia