“Doakan! Doakan! Seperti mereka yang ditanam di sini!” Dewi masih menjerit sekalipun tubuhnya nampak lemah dalam pelukan Nenek Tua.
Aki Kuncen mengelus anak monyet. Memejamkan mata. Semua teman Dewi mengikuti. Menunduk. Dewi bangkit Nenek Tua melepasnya. Diraihnya dua mayat monyet itu. Menangis lagi. Dimasukkan satu demi satu ke dalam lubang. Dikuburnya dengan gundukan kecil tanah di samping dua lubang itu. Air matanya menetes di atas gundukan tanah itu. Diraihnya daun gugur. Ditebar di atas dua gundukan kecil itu. Tangannya meraba-raba lagi tanah sekitar. Mengambil batu-batu kecil. Menandai dua makam. Layaknya nisan. Dewi berdiri berjalan ke arah Aki Kuncen. Dielusnya monyet kecil yang nampak ketakutan.
“Setidaknya kau tahu di mana orang tuamu dikuburkan. Tidak seperti aku…,” Dewi berbalik. Limbung. Nenek Tua memapahnya. Berjalan ke arah gerbang. Diikuti teman-teman Dewi.
“Dia sudah lama tidak percaya Tuhan. Orang tuanya dibunuh dan mayatnya entah dibuang ke mana,” bisik seorang teman Dewi yang mengembalikan cangkul ke saung kecil.
Aki Kuncen menggeleng-menggelengkan kepala. Matanya yang cerah jenaka basah. Ditatapnya dua kuburan kecil. Beralih pada monyet kecil dalam pelukannya. Dielusnya sambil berbisik entah apa. Hujan daun masih lebat. Kelelawar masih beterbangan memutar dengan gelisah. ***
Kedungpanjang, 2018
Toni Lesmana, menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Buku puisinya Tamasya Cikaracak masuk daftar Kusala Sastra Khatulistiwa 2016-2017. Buku kumpulan cerpen terakhirnya Tamasya Kota Pernia (2018). Tinggal di Ciamis.