Ziarah

Ibu dan ayahnya sudah lama tidur di kasur tanpa ranjang. Mereka kelelahan setelah seharian pergi demonstrasi. Dewi yang masih berusia lima tahun tak mengerti. Ia hanya sering melihat banyak orang datang ke rumah mereka yang kecil ini. Bicara banyak hal. Kemudian ibu dan ayahnya pergi hingga malam, sering seharian ia dititipkan pada tetangga, tak jarang malah hingga menginap berhari-hari.

Malam itu, dari dalam lemari Dewi mendengar suara-suara aneh dari luar. Kemudian suara langkah. Tapi ia terlalu asyik dengan dunianya. Saat terdengar suara pintu kamar, ia mengintip dari lubang kunci lemari. Sesosok hitam masuk. Ia menahan napas teringat bajak laut di Neverland. Sosok yang memunggungi lemari itu berjalan ke arah ibu dan ayahnya. Ia melihat sosok itu membawa senjata tajam. Menikam berulang kali ke arah kasur. Cepat dan kuat Terdengar suara rintih ayah dan ibunya. Tak berapa lama sosok itu bergegas ke luar.

Di atas kasur, ibu dan ayahnya berlumuran darah. Merah. Dewi nanar tak sadarkan diri. Dia tidak tahu ketika sosok hitam itu masuk lagi membawa teman, membawa kantong besar. Memasukkan mayat ibu dan ayahnya ke dalam kantong, lantas memanggulnya. Entah ke mana. Begitu ia tersadaryangdidapati di kasur hanya darah. Merah.

Merah seperti lelehan sirih di bibir Nenek Tua.

Suara kosrak sapu lidi meyusup ke dalam kepala Dewi. Menyapu genangan darah. Kosrak. Kosrak. Kosrak. Nenek tua itu asyik menyapu daun di atas tanah merah. Gerakannya pelan berirama. Seperti menari. Berputar. Seperti putaran terbang kelelawar tadi. Gerakan nenek tua itu lama-lama mirip lambaian. Tubuhnya begitu ringan seperti daun gugur. O, daun-daun berguguran. Hujan daun di dalam makam.

Keheningan. Dewi berkali-kali melirik ke arah teman-temannya yang masih saja khusyuk berdoa dipimpin Aki Kuncen. Dewi menerka-nerka. Nenek Tua yang terus menyapu itu pastinya istri Aki Kuncen. Mereka sama tuanya. Orang-orang tua yang anehnya bermata jemih seperti bocah. Teman-teman Dewi, katanya, sedang berziarah ke makam salah seorang leluhur, yang hidup ratusan tahun silam. Makam itu terletak di tengah-tengah, di bawah sebuah pohon besar. Dari jauh nampak tonjolan-tonjolan akar di tanah, mirip ular. Keluarga monyet memanjat akar gantung yang mirip jenggot.

Selintas Dewi menangkap sesosok tubuh hitam yang sedang berdiri, jauh di sudut, sedang asyik membidik. Senapan panjang mengarah ke akar-akar yang bergelantungan.

Duar!

Arsip Cerpen di Indonesia