Saat hendak naik bus, seseorang tiba-tiba menepuk bahuku. Aku menoleh. Sosok yang tak asing. Tiba-tiba aku diselimuti rasa bahagia.
“Wah, assalamu’alaikum, Pak Imron,” sapaku.
Pak Imron adalah guruku waktu MTs dan MA. Beliau mengajar mata pelajaran fathul qarib dan akidah akhlak.
“He-he, wa’alaikumussalam. Ayo naik dulu,” ajaknya.
Pak Imron memegang tengkukku sambil sedikit memijat. Aku jadi ingat waktu masih sekolah. Hampir tiap bertemu denganku beliau selalu melakukan hal itu.
Kami mendapat tempat duduk di bagian tengah-kanan. Pak Imron kupersilakan duduk di dekat jendela. Karena bus hampir penuh, sopir langsung menginjak gas. Aku pun membuka dialog.
“Pak Imron dari Semarang atau dari mana?”
“Ungaran, Bu. Tadi ada acara di sana.”
“Sendirian, Pak?”
“Iya, tapi sekarang ada teman. He-he.”
Pak Imron memang guru agama yang hobi bercanda. Namun beliau tak pernah kehilangan wibawa. Murid-muridnya selalu menaruh hormat sebab pria berperawakan agak gemuk itu tahu menempatkan candaan.
Kami ngobrol ngalor-ngidul soal kuliahku, perkembangan madrasah, dan hal-hal lain dari remeh-temeh hingga yang penting. Kalimat demi kalimat, curhatan demi curhatan, dan nasihat demi nasihat hadir sepanjang jalan pantura. Aku rasa, koran yang kubeli hanya akan jadi kipas penghalau gerah dalam bus. Sekarang sudah ada Pak Imron yang memberikan ilmu dan hiburan buatku.
“Oh, ya, bagaimana si Mulud, Pak?” tanyaku. Mulud adik kelasku yang terkenal bandel dan konyol.
“Ya masih kayak dulu. Dia masih sering godain cewek. Segitu kesepian dia,” jawab Pak Imron.
Aku ingin terkekeh. Namun mengingat sedang di bus dan di samping Pak Imron, yang keluar hanya tawa kecil yang kututup dengan tangan.
Di pinggiran jalan pantura, aku melihat banyak yang membuka gubuk-gubuk kecil menjual blewah, buah khas Ramadan. Sepanjang jalan pula, aku menemukan banyak baliho dari berbagai lembaga yang menyambut Ramadan. Tiba-tiba sebuah pertanyaan yang tak pernah kupikirkan melintas: mengapa bulan Ramadan ada? Mengapa Tuhan menciptakan Ramadan?