“Coba kamu pikir: kalau tidak ada Ramadan, masihkah kita mendekatkan diri kepada Tuhan? Kenapa Tuhan cuma ngasih Ramadan sebulan dari dua belas bulan selama setahun, karena supaya bulan suci ini dianggap istimewa. Kan kita suka yang istimewa baru mau ngerjain. Yang biasa kayak salat lima waktu malah sering kita tinggal karena harus dikerjakan tiap hari.”
Deg! Pertanyaan dan pernyataan itu langsung menamparku. Aku merasa berdosa, seakan sudah mempermainkan Allah. Benar memang kata Pak Imron. Aku kemudian bercermin: aku memang suka yang istimewa. Aku lebih suka tarawih, tetapi kerap lalai salat lima waktu. Padahal, salat lima waktu wajib hukumnya. Aduh, ya Allah, ampuni aku yang berlogika kacau ini.
Bus terus melaju, seperti diskusiku dengan Pak Imron. Tanpa sadar, kami sudah sampai di Pati. Beberapa menit aku akan sampai di tempat penurunan penumpang. Sebab rumah berbeda dari Pak Imron, aku minta pamit.
“Saya pamit, Pak,” ucapku. Aku mencium tangan Pak Imron dan mengucap salam. Aku turun dari bus saat sampai di alun-alun Juwana.
Suasana begitu ramai saat aku turun. Namun kebisingan jalan masih kalah dari penjelasan Pak Imron yang masih membekas. Ia bersemayam, berdiskusi denganku di sini.
Ah, aku baru tahu, ternyata Tuhan juga bisa rindu. Barangkali seperti rindu seseorang pada kekasihnya, atau rinduku pada Mamak-Bapak dan sebaliknya. Ah, tidak, tidak. Rindu Allah rasanya jauh lebih romantis. Tak bisa disamakan dengan rindu makhluk. Terbukti, Dia memberikan hadiah berupa Ramadan yang begitu indah.
Jalan Ramadan ini mengantarkan kepada Tuhan yang Mahaperindu, sementara jalan itu, jalan-jalan di pantura itu, mengantarkan aku kepada Mamak yang sudah menungguku di depan pintu rumah. Ah, kerinduan memang mengasyikkan. Bukankah begitu? (28)
Sekaran, Mei 2019: 23:23 WIB
Ahmad Abu Rifai, kelahiran Pati, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang