Pertanyaan itu terus membuntuti. Meski muncul keraguan dalam hati, aku akhirnya bertanya pada Pak Imron.
“Pak Imron, saya ada pertanyaan.”
“Mangga.”
“Kenapa Allah menciptakan Ramadan?”
“He-he kamu mulai kritis ya, Bu,” tanggap dia.
Aku hanya tersenyum sambil mengingatingat betapa dulu aku jarang bertanya pada guru. Kalaupun bertanya, ya pertanyaan retoris.
“Allah rindu. Oleh karena itulah, Dia menciptakan Ramadan.”
“Kok bisa, Pak?”
“Ya bisa. Kita ini makhluk-Nya yang supersibuk. Sepanjang tahun kita bekerja, datang menghadiri berbagai acara yang kita anggap penting, dan jalan-jalan ke mana saja kita mau. Tanpa sadar banyak hal penting kita lalaikan. Nah, Ramadan sinyal agar kita merenung. Ben eling. Bulan suci ini juga jadi sinyal kerinduan Allah pada kita. Allah sebenarnya ingin dekat dengan kita.”
Aku menyimak penjelasan Pak Imron.
“Jangan pikir yang bisa kangen hanya kita. Tuhan pun merindu. Kenapa rindu, karena Dia mencintai kita,” lanjut dia. “Jadi ikatan kita dengan-Nya ini ikatan cinta. Cinta, Bu, Dia mencintai kita. Maka kehadiran Ramadan itu agar kita mencintai Dia. Cinta adalah hakikat kita denganNya. Itu maqom tertinggi yang bisa seorang hamba capai. Oleh karena itu, salah satu julukan Nabi adalah Habiballah, kekasih Allah.”
“Bagaimana kita tahu kita cinta Dia, Pak?”
“Ya bila kita ikhlas melakukan sesuatu, bukan karena takut siksa atau ingin pahala. Mencintai itu kan ikhlas memberi dan lapang menerima. Yang jelas kita senantiasa rindu pada-Nya. Tak heran kita sering dengar orang rindu Ramadan. Insya Allah mereka pencinta Allah.”
Obrolan kami pun terus berlanjut, sementara bus sudah sampai di wilayah Kudus. Beberapa penumpang turun, berganti penumpang lebih banyak. Bus makin penuh. Banyak yang berdiri berdesakan.
“Oleh karena itu saat Ramadan ada puasa. Kita disuruh menahan nafsu. Itu jalan pembersihan diri. Jalan takwa. Puasa adalah puisi cinta Tuhan.”
Aduh, aku terkesima mendengar kalimat Pak Imron. Selain penuh makna, untaian kalimatnya indah. Kalimat-kalimat itu membawaku ke sebuah perenungan. Dan, aku sampai ke titik kesetujuan dengannya.