Dia tak mau romo mencari tambahan musuh lagi bagi bibi Sudarmi, karena hanya beliaulah yang senantiasa benar-benar baik kepadanya. Bibi Sudarmi adalah adik kandung romo yang merawatnya sedari bayi. Bibi Sudarmi sudah seperti ibu kandung. Karena itulah saat itu ia begitu menunggu kepulangan romo demi membuktikan kejujuran ucapannya.
Perkara itu sama menyedihkannya ketika dia harus menunggu untuk bisa melihat rupa biyungnya. Konon sudah menikah lagi dengan abdi dalem di istana lain setelah diceraikan romonya. Dia tak pernah mengerti dengan penjelasan bibi Sudarmi. Mengapa biyungnya mesti selalu main sembunyi-sembunyi, jika ingin melihat atau mengecup pipinya? Bukankah dia masih berstatus sebagai anaknya juga? Apakah ada dendam atau cemburu yang menciptakan jarak? Ataukah ada hal lain lagi yang disembunyikan?
Sayangnya bibi Sudarmi bersekongkol dengan perempuan itu. Padahal dia juga tahu bagaimana rasa merananya hati dalam derita menunggu. Bahkan hingga dia meninggal, belum ada satu pun lelaki yang berani meminang. Konon lantaran dulu dia pernah menyumpah-nyumpah seorang lelaki yang lancang mengatainya mirip lelaki.
***
Mungkin masalah pokok dalam hidup ini adalah menunggu. Sudah tak terhitung rasanya episode yang dia lewati dengan tema itu. Episode terbesar yang pernah dia jalani adalah ketika romonya menyodorkan lelaki yang sekarang menjadi suaminya.
Dia tiada mengenal secara utuh siapa calon suaminya itu. Apalagi dia gadis istana, tidak mengenal apa yang sekarang dinamakan orang-orang sebagai pacaran. Jadilah tahun pertama pernikahan itu sebagai hari-hari yang penuh kesalahpahaman.
Lantaran statusnya sebagai istri, tentu saja dia manut ketika diboyong ke rumah kontrakan yang berdekatan dengan sekolah tempat suami mengajar di Solo. Rasanya seperti benih cabai yang dicabut dari tempat persemaian dan dipindah ke kebun belakang yang sepi dan asing.
Pada sebuah pertengkaran yang sengit, dia sempat minggat kembali ke istana dan harus berhadapan dengan romonya. Sumbu permasalahan justru berasal dari masalah-masalah sepele. Meski dilahirkan dari perut seorang pribumi, suaminya benar-benar mirip orang Belanda yang hidupnya senantiasa teratur, tepat waktu, dan pandai memerintah.
Dia yang dilahirkan dan tumbuh besar dalam lingkungan istana. Senantiasa memperlakukan waktu seperti sebuah masakan yang harus diresapi sebisa mungkin. Semua pekerjaan tak mungkin dilakukannya secara grusa-grusu dan cepat selesai. Apalagi di istana dia terbiasa ditemani pembantu.