Malam Itu Dia Melihat Kepulangan Suaminya

“Aku cuma khawatir kalau Emak nanti jatuh sakit. Hujannya deras sekali. Emak nanti bisa masuk angin….”

“Kemarin aku bermimpi bapakmu pulang. Aku enggak mau dia pergi lagi gara-gara aku telat buka pintu,” dia ulangi lagi cerita pendek itu di hadapan anak bungsunya.

“Mak…,” manik matanya mulai berair.

“Ke sinilah, akan aku ceritakan kenapa bapakmu harus pergi hari itu?” Dia merasa cerita ini belum pernah dia ceritakan kepada siapa pun.

Dia merasa peristiwa itu hanya dia ceritakan dalam semalam. Anak cucunyalah yang justru semakin dirundung kekhawatiran, lantaran cerita itu menghantui malam demi malam.

Pascakemerdekaan suaminya pernah banyak menulis di koran-koran, hingga pernah dilirik Presiden Sukarno dan hampir jadi menteri. Banyak juga orang yang membencinya. Sangat benci. Padahal itu hanya sekadar tulisan, tak menyakiti fisik siapa pun. Orang-orang itu mendapatkan jalan pelampiasan ketika terjadi huru-hara yang meributkan partai terlarang. Harga sembako dan pemerintahan, hingga bapak mereka pun mengambil keputusan untuk tidak pulang demi keamanan orang-orang rumah.

Dia tahu, suaminya sedang mengalami masa-masa terberat dibanding kehidupannya di masa lampau. Menghadapi kebencian bangsa sendiri ternyata lebih mematikan ketimbang menghadapi serangan bangsa asing. Sebagai istri, dia ingin turut memikul beban beratnya.

Ketika di sepertiga akhir malam itu, dia melihat kepulangan suaminya. Dia merasa, tugasnya sudah selesai. Dia bahagia lantaran suaminya sudah tahu perihal kesetiaannya. Meski tanpa sepatah kata cinta. Meski hanya dengan jalan bersabar dalam menunggu. Anak-anak sudah besar, meski dia tak bisa menjamin kebahagiaan mereka.

Ini adalah bakti terakhirnya, ikut kepada suami. Meski kini di kanan-kiri, anak, menantu, cucu, dan cicit, riuh menangisi….

 

Banyuputih, Kalinyamatan, Jepara, 2017.

Arsip Cerpen di Indonesia