“Cobalah pertahankan dulu. Setelah tiga tahun, kalian pasti akan saling mengenal dan mengerti.”
“Apakah Romo dulu juga seperti itu dengan Biyung?”
“Apa kau ingin seperti bibimu?”
Apakah bibi Suparti tampak menderita dalam kesendiriannya? Beberapa kali dia memang pernah mendapati bibinya yang tampak merana dalam tekanan kesepian. Entah mengapa hal itu tak pernah dia rasakan pada kehidupan anak cucunya sekarang. Putri ketiganya dua kali kawin cerai dan beberapa bulan kemarin dua orang cucunya juga memutuskan pisah dengan lelaki pilihannya sendiri. Mengapa mereka justru terlihat lebih bahagia dari sebelumnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu adalah hal-hal yang akan segera ia timbun jika mengambang dalam benak.
“Aku mencintai kakekmu salah satunya karena dia seperti jam dinding. Setiap kali melihatnya, kau akan segera ingat. Detik demi detik yang kita lalui adalah tabungan yang kelak pasti kita bongkar.” Begitulah cerita yang dia gelar ketika cucu-cucunya sekadar ingin tahu perihal siapa kakeknya.
Dengan senang hati dia akan bercerita ketika karir suaminya naik, mulai dari pengajar di sebuah HIS di Solo. Menjadi penasihat Deputi Residen Belanda urusan Pribumi, lalu menjadi profesor di sebuah sekolah hukum Batavia. Kemudian menjadi anggota Dewan Pemerintahan Hindia Belanda dan penasihat gubernur jenderal dalam kurun lima tahunan. Hanya pada masa pendudukan Jepang dia menolak semua tawaran kedudukan lantaran sudah paham dan sudah menemukan jalan untuk menyokong kemerdekaan.
Ternyata romonya benar. Setelah tiga tahun, dia mulai bisa menyesuaikan diri dengan tabiat lelakinya. Meski kadang tebersit juga pikiran, kehadiran anak-anaklah yang jadi perekat antara mereka. Toh akhirnya dia juga terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah sendirian dan menjadikan suaminya sebagai raja saat pulang. Sungguh, semua itu ternyata ringan dikerjakan jika dengan hati riang.
“Lelaki kalau dibegituin, malah semakin menjadi lho, Nek. Pasti kakek orangnya asik sekali, sampai Nenek segitunya dengan beliau,” timpal salah satu cucunya yang akhirnya bercerai dengan sang suami.
Kalimat itu hanya dia balas dengan senyum, lantaran tak punya cara untuk memberikan penjelasan. Kalau mau jujur, sebenarnya dia dulu juga merasakan hal yang sama. Itu dulu, dulu sekali, sebelum kemudian waktu mengajari dan menjawab tentang banyak hal.
Hidup, sepertinya memang hanya soal kesabaran dalam menunggu.
***