Pada bulan pertama, tahu-tahu ia telah tumbuh setinggi pinggang. Semua orang terkejut, ini sebuah keajaiban, kata mereka. Selanjutnya batang kecil itu mulai menampakkan jati dirinya, awalnya mereka pikir pohon pinang, sebelum kemudian ia tumbuh besar sampai orang-orang bisa tahu dengan jelas. Mereka semakin kagum, tidak wajar pohon kurma bisa tumbuh di daerah tersebut. Biasanya pohon itu hanya mereka lihat di televisi atau majalah yang memuat gambar-gambar dari Timur Tengah.
Setelah melewati enam bulan pohon itu tampak besar. Semua bersuka cita. Tak hanya manusia yang datang, bahkan binatang pun ikut mengerubungi pohon itu. Tupai naik turun, burung-burung membuat sangkar pada salah satu pangkal daun, komplotan semut mengerubungi batangnya yang tebal, kucing-kucing pemalas tertidur di bawahnya demi menghindari terik matahari.
***
Malam puasa pertama, salah satu sudut bagian dalam pohon kurma itu bergerak pelan. Lalu sesuatu mencuat darinya, perlahan, kecil menjadi besar, dan semakin jelas bentuknya. Esok paginya pemandangan itu dilihat oleh seseorang. Lalu berita itu tersebar dari mulut ke mulut, membuat warga lainnya berkumpul menyaksikan keajaiban. Sekalipun mereka bisa, mereka tak cukup lihai menyembunyikan ketakjubannya. Wajah-wajah kagum mendongak menatap pohon itu. Buah kurma pertama telah menampakkan rupanya, mungil, polos, malu-malu bersembunyi di antara bayang-bayang daun lebarnya.
Hari kedua di bulan suci, buah kurma dengan ajaib tiba-tiba telah tumbuh menggantung berkarang-karang. Kurma-kurma itu ranum dan segar bewarna merah kecokelatan. Cukup banyak. Saking banyaknya sampai diputuskan secara musyawarah bahwa berkah ini akan dibagikan kepada setiap orang.
Karena di bulan suci orang-orang berpuasa, maka kurma itu dibagikan di ujung siang memasuki petang. Orang-orang mengantre rapi, satu per satu mengambil kurma, secukupnya saja.
Kabar tentang pohon kurma dan buahnya yang ajaib itu terus tersebar, hingga hari-hari berikutnya semakin ramai orang yang datang, antrean pun makin panjang. Tangkai-tangkai kurma itu pun seakan tidak ada habisnya, semakin dibagikan semakin bertambah. Meskipun demikian, mereka yang mengantre masih seperti kemarin, tidak memuntut lebih, seberapa mereka membutuhkannya.
Jika sebelumnya Haji Usman jadi bahan umpatan setelah keberangkatannya karena hanya menghadiahi sekantong benih, kini namanya kembali hinggap di mulut orang-orang, namun berbalik dari sebelumnya. Pohon kurma itu dengan segala keajaibannya telah membungkam omongan orang-orang, kini mereka lebih banyak memuji Haji Usman. Ada yang menyebutnya keramat karena sudah lama di Tanah Suci. Ada yang mengatakan itu bibit kurma unggul yang bisa tumbuh di mana saja, harganya sangat mahal, tapi mampu ditebus dengan kekayaan Haji Usman. Entah berita apalagi yang beredar, muaranya tetap satu, mereka menyanjung Haji Usman.