Semenjak tanaman itu menuai hasil, penduduk kampung kian hari kian baik. Beberapa tokoh yang selama ini jarang tampil di tempat ibadah tiba-tiba mendadak jadi taat, ada juga yang tiba-tiba menjadi dermawan, dan banyak juga yang memulai niat suci mereka dalam bidang yang bermacam-macam.
Singkat cerita, bulan suci pun berakhir. Buah kurma juga berhenti keluar. Seakan buah itu hanya khusus memberi hadiah pada masa ramadan saja, selebihnya tinggal pohonnya yang besar berdiri tegak, dikerumuni oleh makhluk dari berbagai jenis, hewan, tumbuhan, dan manusia.
***
Sebagaimana tahun pertama, tiap tahunnya pohon kurma berbuah hanya di bulan suci. Begitu yang terjadi pada tahun kedua, ketiga, dan keempat. Ini tahun kelima, masih menunggu beberapa saat lagi sampai memasuki masa ia berbuah.
Menjelang datangnya bulan suci, seorang pria datang mengunjungi lahan di mana pohon itu tumbuh. Pria itu bertanya siapa pemiliknya. Orang-orang menjawab itu milik umum, bukan hak pribadi. Jika ingin menuai buahnya, hendaklah ia menunggu beberapa hari lagi, akan dibagi secara cuma-cuma, jelas mereka padanya. Namun ia tak berhenti di sana, pria itu menanyakan siapa yang paling tinggi kuasanya dengan pohon itu. Orang-orang mengatakan Haji Usman. Ia masih belum puas karena orang itu tidak di sana, ditanyai lagi siapa orang di bawah Haji Usman. Mereka menunjuk beberapa sahabat beliau yang dulunya dititipi benih pohon tersebut sebelum tumbuh besar berwibawa.
Di hadapan empat orang yang disebutkan penduduk, pria itu menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya. Mereka berempat berkerut keningnya mendengar niat pria tersebut yang ingin membeli pohon kurma ajaib itu. Mereka menolaknya mentah-mentah, pohon itu telah menjadi semacam lambang bagi kampung. Artinya itu berhak untuk setiap orang, baik warga di sana atau dari luar, tidak boleh dikhususkan kepada suatu pihak. Pria itu ternyata bersikeras, ia tak mau menyerah. Mereka berlima berdebat sengit, empat lawan satu. Hingga setelah beberapa saat, dua dari empat orang mulai ragu pada keputusan pertama. Pria itu menurunkan permintaannya, ia tak minta lagi pohonnya, tapi buahnya. Dia berjanji akan membayar mahal. Pihak sebelah semakin ragu-ragu. Akhirnya tiga di antaranya setuju, sementara seorang lagi ikut dengan terpaksa.
Setelah perjanjian itu, mereka menjelaskan kepada warga perihal tersebut. Bulan suci kali ini tidak ada kurma yang dibagikan. Sebagai gantinya, kampung mereka akan menerima bayaran yang cukup besar. Uang itu untuk bersama. Setelah bermusyawarah panjang, akhirnya orang-orang sepakat. Hanya sebagian kecil yang menolak. Mereka kalah jumlah.