Pohon Kurma

Bulan suci datang. Buah kurma mulai tumbuh, menyembul satu per satu. Namun berbeda seperti yang sudah-sudah, kurma itu keras dan hijau. Buahnya tidak masak, atau tepatnya belum masak. Orang-orang yang bertanggung jawab atas perjanjian sebelumnya, bertanya-tanya kebingungan. Semakin hari buahnya semakin banyak, tetapi rupanya tak kunjung berubah, putik sedemikian rupa.

Para petani dan mereka yang ahli tanaman dipanggil untuk menyelesaikan persoalan ini. Mereka datang membantu. Segala upaya diusahakan, pohon itu disiram tiap hari, tanah sekitarnya diberi pupuk, hewan-hewan dan tumbuhan lain di sekitarnya diusir dan dibuang agar tak mengganggu. Namun keadaan tidak berubah. Buah kurma masih tak mau memerah.

Orang-orang mulai bergosip dan menjelek-jelekkan dari belakang. Mereka merasa ditipu, mereka bilang ini akibat keserakahan sepihak. Mereka ingin menuntut kembali hak bersama, seharusnya kurma itu tetap dibagi seperti biasa. Akan tetapi pihak yang bertanggung jawab menolak karena takut membatalkan janji. Akhirnya warga kampung terpecah menjadi dua kelompok.

Suasana menjadi panas, semua orang sudah sibuk mempermasalahkan hal ini. Watak mereka pun berubah, tiba-tiba setiap orang jadi mudah tersinggung. Mereka yang dulu kerap di tempat ibadah mulai lalai karena meributkan masalah tersebut. Begitu juga yang dulu dermawan, sekarang menjadi mudah curiga pada setiap orang dan menutup rapat-rapat kedua tangannya. Bahkan lebih parah lagi, banyak yang sudah tidak  lagi menjalankan puasa karena pohon kurma.

Pada sepuluh hari akhir bulan suci, tiba-tiba semua berubah. Kurma menjadi merah dan ranum, satu persatu masak pada tangkainya. Buahnya lebih ranum dari tahun-tahun yang lalu. Perseteruan mulai reda, semua kembali menyetujui agar itu dijual saja. Hari terakhir di bulan suci, mutlak semuanya telah siap dipetik. Penduduk berbondong-bondong untuk membantu, tak ada yang curang, tak ada yang berniat mencuri. Semuanya melakukan apa yang bisa dilakukan, memetik, membersihkannya, kemudian dikemas dalam kotak-kotak kardus besar. Malam itu, semua selesai karena mereka saling membantu, kurma itu siap dikirim esok pagi.

Fajar datang, penduduk berkumpul untuk menyelesaikan tugas akhir mereka semalam. Tumpukan kardus besar itu diangkat satu-satu. Namun, beratnya tidak seperti semalam, benda itu cukup ringan. Mereka kebingungan sebelum kemudian mengecek isinya. Tidak ada apa-apa di dalamnya, hanya biji-biji kurma berhamburan dalam kardus. Bulan suci telah berakhir, kurma-kurma itu membusuk hanya menyisakan biji. Biji itu seolah mengambil rupa Haji Usman lalu mengejek semua orang atas niat mereka yang bertentangan dengan niat beliau.

Arsip Cerpen di Indonesia