“Baik, Dokter. Saya juga mau pulang.”
“Mbak gak bawa kendaraan?”
“Rumah saya dekat masjid.”
“Oh, baiklah Mbak. Sekali lagi, semoga kucingnya segera sembuh.”
“Terima kasih, Dokter.”
Tiga hari kemudian, Fadil baru saja selesai tadarus Quran, seusai shalat Zhuhur berjamaah, tiba-tiba ia didatangi Kiai Makmun, pimpinan pondok pesantren dan imam di masjid tersebut.
“Assalamualaikum, Dokter Fadil.”
“Waalaikumsalam, Kiai.” Ia langsung bangkit berdiri dan mencium tangan ulama yang dihormati masyarakat itu.
“Boleh saya bicara satu hal?”
Awalnya, Fadil agak bingung, tapi ia segera mengiyakan. “Boleh, boleh, Kiai.”
“Tapi, kita bicaranya di serambi depan aja ya.”
“Baik, Kiai.”
Fadil mengikuti Kiai Makmun ke serambi masjid.
“Dokter Fadil, saya tadi sempat mendengar bacaan Quran Dokter. Merdu sekali. Pernah belajar qiraah di mana?”
“Ah, Kiai. Saya jadi malu. Waktu SMA saya pernah belajar qiraah di Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Cianjur. Ya lumayan, sedikit-sedikit saya bisa lagu Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, sampai Jiharkah. Waktu SMA saya sempat beberapa kali ikut MTQ. Terakhir, saya juara kedua tingkat Provinsi Jawa Barat. Tapi, sejak kuliah sampai saat ini, saya jarang membaca Alquran dengan langgam. Saya hanya membacanya secara murotal. Apalagi, sejak saya ikut komunitas One Day One Ayat dan One Day One Juz,” kata Fadil.
“Luar biasa. Saya bangga kepada anak-anak muda zaman sekarang. Mereka pintar ilmu dan teknologi, dan mereka juga gemar membaca Quran. Sebagian di antaranya hapal Quran, bahkan juga menguasai lagu-lagu dalam Alquran seperti Dokter Fadil.”
“Pak Kiai terlalu melebih-lebihkan. Saya hanyalah orang muda yang lagi mencari, Pak Kiai. Mencari identitas diri, berupaya mengenal diri, agar bisa mengenal Sang Pencipta dengan baik.”
Kiai Makmun menepuk bahu Fadil sambil tersenyum.
“Dokter Fadil, saya ingin mengucapkan terima kasih atas kebaikan hati Dokter mengobati kucing milik putri saya, Nurul Izzah. Alhamdulillah, kucingnya sudah sembuh dan dia sangat senang. Apalagi, katanya Dokter menggratiskan biaya periksa dan obat,” kata Kiai Makmun.