Hati Sang Pemilik Kucing

“Oh, gadis berjilbab dan bercadar itu putri Pak Kiai?”

“Iya, Dokter.  Putri bungsu saya. Baru enam bulan lalu lulus dari Institut Ilmu Quran (IIQ) Ciputat. Alhamdulillah, dia hapal 30 juz.”

“Subhanallah. Semoga Allah selalu memberkahi hidupnya.”

Aamiin.”

Kiai Makmun berhenti sejenak. Belum pernah Fadil seperti ini. Hatinya berdebar-debar.

“Begini, Dokter. Alhamdulillah Dokter telah merawat kucing tersebut. Kini, saya mau bertanya satu hal, seperti doa yang Dokter minta kepada putri saya, maukah Dokter merawat hati sang pemilik kucing tersebut?”

Belum sempat Fadil menjawab, tiba-tiba Nurul Izzah melintas. Ia mengenakan gamis putih susu, dipadukan kerudung cokelat tua dan cadar cokelat muda. Tiga hari tidak bertemu, gadis itu di mata Fadil jauh lebih cantik.

“Nah itu Nurul. Sini, Nak,” kata Kiai Makmun.

Nurul mendekat. Ia mencium tangan abahnya.

Kemudian, ia menoleh ke Fadil, “Assalamualaikum, Dokter,” sambil menangkupkan kedua tangan di dadanya.

“Waalaikumsalam, Mbak Nurul.”

“Panggil Nurul saja, Dokter,” ujar Kiai Makmun.

“Iy…iya, Pak Kiai.”

“Nurul,” kata Kiai Makmun.

“Ya, Abah.”

“Engkau seorang hafizah. Maukah engkau menyempurnakan hafalan Quranmu dengan memilih imam seorang dokter hewan yang juga qori? Insya Allah anak-anak kalian akan jadi hafiz dan sekaligus juga qori yang hebat,” suara Kiai Makmun lembut, tapi setiap kata terdengar sangat jelas dan gamblang di telinga Fadil dan Nurul.

“Pilihan Abah pasti yang terbaik. Nurul sami’na wa atho’na,” sahut Nurul sambil menundukkan wajahnya.

“Alhamdulillah,” kata Kiai Makmun.

Tiba-tiba, cadar Nurul lepas dan jatuh ke lantai masjid. Fadil terkesima melihat wajah yang begitu cantik sempurna dan bercahaya. Nurul pun terkesiap. Wajahnya yang putih bening mendadak merona merah delima. Apalagi, saat matanya bertemu dengan mata Fadil, meski hanya sedetik. Keduanya salah tingkah. Fadil langsung memalingkan pandangan. Nurul bergegas memungut cadarnya dan segera memakainya kembali. Kiai Makmun menyaksikan pemandangan tersebut sambil tersenyum.

Arsip Cerpen di Indonesia