Tanah kami pun berhektare-hektare luasnya, tersebar di mana-mana. Ada yang dibeli dengan uang kami sendiri. Ada pula pemberian tulus dari orangorang agar tanah itu dijadikan pesantren; baik yang selokasi atau sedesa dengan pesantren kami atau di desa lain, di kecamatan lain, di kabupaten lain, bahkan di provinsi lain.
Aku juga bisa berumrah kapan saja. Bukan hanya karena uang kami cukup, bahkan lebih kalau sekadar dibawa umrah. Tapi juga karena hampir selalu ada tamu-tamu kami yang datang ke sini, dengan kebaikan hati mereka, menawarkan diri untuk memberangkatkan kami ke Tanah Suci. Belum lagi, ada beberapa alumnus pesantren ini yang memiliki perusahaan perjalanan umrah. Kami juga bisa berhaji kapan saja. Tidak perlu antre belasan tahun sebagaimana orang-orang pada umumnya, karena Abah sudah dikenal para pejabat ring satu di Kementerian Agama.
Tapi, apa arti semua itu? Kebahagiaan hakiki tidak bergantung pada bendabenda. Tidak pula bergantung pada puja-puja.
Kini usiaku 40 tahun, sedangkan Abah 73 tahun. Itu berarti sudah 21 tahun kami menikah. Abah menikahiku saat beliau berusia 52 tahun, tepatnya ketika nyai sepuh, Nyai Sa’diyah, berpulang ke pangkuan Allah setelah berjuang melawan stroke yang dideritanya. Sedangkan aku, saat itu, hanyalah gadis 19 tahun di pesantren ini. Yang baru saja lulus dari madrasah aliyah, lalu diminta mengabdi sebagai salah satu pengajar di madrasah diniyah.
“Sum, berbahagialah. Kamu akan menjadi seorang nyai. Nyai besar, bahkan. Beruntung sekali dirimu. Beruntung sekali ayah, ibu, dan seluruh keluargamu. Seminggu lagi lamaran kiai akan sampai ke rumahmu. Anak-anak dalem sedang mempersiapkan segalanya,” Ustad Tsauri berkata kepadaku di kantor madrasah diniyah ketika ustad dan ustadah lain sudah pada pulang malam itu.
“Cie… Mbak Sum… Cie… Mau jadi bu nyai, nih ye…” sergah Nikmah saat aku baru masuk pintu bilik. Belum sempat kujawab, Odah tiba-tiba mendekatiku. ”Selamat ya, Mbakku, Bu Nyaiku,” ucapnya dengan mata yang haru, kemudian menciumi kedua pipiku.
Tak terasa, 21 tahun sudah semua itu berlalu. Ustad Tsauri sudah jadi kiai di kabupaten sebelah. Nikmah sudah ikut suaminya bekerja di Arab Saudi, yang sesekali kutemui bila aku sedang berumrah atau berhaji. Sedangkan Odah, dia pulang ke kampungnya di Jawa Barat. Dan, kini dia sudah menjadi pengusaha bisnis online yang sukses. Tak terasa, selama itu pula kuhadapi semua ini seorang diri. Lara ini. Air mata ini.
Kiai Halimi, kakak iparku yang usianya tiga tahun di atas Abah, memahami apa yang kurasakan, meski juga tak benarbenar mengerti apa yang sebenarnya kuinginkan. ”Sabar. Tidak ada manusia mandul di dunia ini. Yang ada hanyalah manusia yang belum dikaruniai oleh Allah. Yakinlah, bila masanya tiba, akan ada segumpal diri dalam dirimu, akan ada jiwa dalam jiwamu, akan ada janin yang ditiupkan Allah ke dalam rahimmu,” begitu dia meyakinkanku.