Malam-Malam Nyai

“Jiwailah Qur’an surat Maryam ayat 1 hingga 11. Di situ, termaktub sebuah kisah tentang Nabi Zakaria yang mengiba kepada Allah agar dikaruniai seorang putra. Saat itu Nabi Zakaria juga putus asa karena dia dan istrinya sudah renta. Bila melihat kondisi fisiknya, pupuslah harapan mereka untuk memiliki seorang putra. Namun, dengan kuasa Allah, dari hari ke hari rahim istri Nabi Zakaria mulai membesar, kemudian lahirlah darinya seorang bayi yang dinamainya Yahya, yang sebagaimana ayahnya kelak juga diangkat menjadi nabi oleh Allah,” ucap Nyai Azizah.

“Tenteramkan jiwamu, Yun. Bila Allah berkehendak, kau pasti punya anak,” tambahnya lagi. Nyai Azizah adalah adik bungsu Abah. Meski usianya lima tahun di atasku, dia tetap memanggilku Yunda. Panggilan sayang untuk kakak perempuan di kalangan keluarga pesantren kami.

Bila bertemu Kiai Halimi dan Nyai Azizah, hatiku benar-benar tenteram. Bagiku, keduanya adalah mata air kearifan yang mengucuri kerontang jiwaku. Tapi, itu tak kualami kalau berjumpa kerabat Abah yang lain.

“Asyik ya, punya anak. Ke mana-mana tidak hanya bersama santri khadam,” sindir Nyai Nung kemarin, saat kumpulkumpul keluarga besar pada acara halalbihalal di pesantren kami.

“Betul, Yun,” timpal Nyai Uha, “indah benar kalau punya anak. Kita tidak hidup sendiri. Selalu ada hiburan siang dan malam. Ayo, Yun Sum, kapan punya anak?” sambil menggoda dan menyusui putrinya, ipar Nyai Nung itu melirikku. Mata para nyai dan para ning yang hadir pagi itu pun tertuju kepadaku.

Belum lagi kerabat lain atau tamu-tamu kami yang selalu bertanya kapan aku akan punya anak. Apakah aku tidak ingin punya anak. Apakah aku memakai alat kontrasepsi atau tidak. Atau apakahapakah lain yang sungguh menyakitkan. Jawablah, kepada siapa akan kucurahkan semua ini bila tak kepadamu?

Tak mampu kutanggung nestapa ini seorang diri. Bila pertanyaan, ucapan, atau sindiran-sindiran itu melintas, ingin rasanya kutinggalkan cerpen ini.

Saat-saat itu pula aku teringat Dasuki. Dia yang dahulu menjadi malam dari malam-malamku, menjadi siang dari seluruh hari-hariku, menjadi ruangwaktuku. Dia yang apabila mengajar di kelas sebelah selalu kucuri-curi dengar suaranya. Kuintip wajahnya. Dia yang pernah kuimpikan menjadi laki-laki yang dengan gagah akan melafalkan qabiltu di hadapan bapak. Namun, akhirnya kitab takdir menyimpan rutenya sendiri bagi perjalanan hidup manusia. Dalam kitab itu, Allah menulis misteri yang hanya dapat dipahami-Nya sendiri. Sebulan menjelang Dasuki melamarku, Kiai Daiman mengutus Ustad Tsauri untuk menemui bapak. Bapak kemudian mendatangiku di pesantren, berkabar bahwa Kiai Daiman bermaksud menikahiku.

Arsip Cerpen di Indonesia