Dengan bahagia bapak berkisah, konon ada seorang habib dari Kudus yang terkenal kewaliannya. Habib itu datang, lalu berpesan kepada Kiai Daiman bahwa Kiai Daiman harus menikahiku. Habib yang terkenal memiliki penglihatan di luar penglihatan manusia pada umumnya itu berkata, rahimku adalah rahim yang istimewa. Andai diibaratkan sawah, tanahnya bukan tanah sembarangan. Tanah super! Dari rahimku, konon, akan lahir benih-benih super. Akan lahir darinya anak-anak saleh dan salehah yang dapat menerangi kehidupan umat manusia.
Kiai Daiman memiliki garis nasab yang mulia. Dia keturunan kesembilan dari salah satu wali penyebar Islam di tanah Jawa. Selain itu, Kiai Billah, ayahnya, adalah mursyid tarekat. Kepada Kiai Billah pula, saat beliau masih hidup, bapak berbaiat menjadi pengikut tarekat itu.
Bisa kaubayangkan betapa taatnya bapak kepada Kiai Billah, dan tentu saja kepada keluarganya. Bayangkan, dapatkah bapak menolak pinangan putra gurunya yang sekaligus guru putrinya? Apalagi, pernikahan ini juga atas petuah habib yang kewaliannya sudah dikenal di mana-mana itu. Tak sedikit pula orang meyakini, Kiai Billah dan Kiai Daiman juga sama-sama wali Allah!
Beberapa hari setelah lamaran, pesantren ini mulai sibuk. Truk-truk berdatangan membawa tumpukan terop dan pengeras suara. Hampir tak ada celah di halaman atau di tanah kosong pesantren ini yang tidak dipasangi terop. Sapi-sapi dan kambing-kambing dipotong. Ratusan jenis jajanan diolah. Berbagai masakan disiapkan oleh santri, tetangga pesantren, dan alumni. Ribuan tamu undangan mulai wali santri, alumni, masyarakat, hingga para pejabat lokal maupun nasional berdatangan ke pesantren ini. Pernikahan kami digelar.
“Sumiati binti Murakib menikah dengan KH Daiman Billah bin KH Billah Tajuddin,” begitulah tulisan yang tertera di surat undangan.
Sebulan—dua bulan pertama aku belum bisa menerima pernikahan ini. Cinta kepada Dasuki masih begitu mencengkeram. Selain itu, suamiku lebih tampak sebagai kiai yang kutakzimi ketimbang sebagai lelaki yang layak kusayangi. Barulah beberapa bulan setelahnya hingga dua tahun kemudian aku mulai menikmati pernikahan ini.
Perlahan-lahan, aku juga mulai menikmati fasilitas yang beliau berikan. Apa pun yang sebelumnya hanya bisa kudamba kini kumiliki sepenuhnya. Baju-baju mahal, mobil, perhiasan, dan rumah yang besar. Belum lagi santrisantri yang selalu siap melayaniku kapan saja. Aku benar-benar bagai seorang ratu. Sebagaimana seorang nyai pada umumnya, tugasku sehari-hari hanya mendampingi Abah dan mengajar santri-santri putri di pesantren kami.