Masuk tiga tahun usia pernikahan kami, keinginan itu mulai datang, kegelisahan itu terus membayang. Sebagaimana perempuan lain, aku juga ingin ditumbuhi benih dalam rahimku. Ingin memiliki jiwa yang lahir dari jiwaku. Ingin memiliki anak yang dapat menghibur hari-hariku, yang dapat mendoakan aku, dalam hidupku dan kelak di saat matiku.
Hampir 20 tahun aku menunggu. Tapi, aku tetaplah seorang nyai yang hidup dengan ribuan santri, bukan seorang ibu yang memiliki putra atau putri. Ketika keinginan itu menjadi-jadi, saat aku benarbenar hanya sanggup menangis seorang diri di kamar ini, hanya bisa kuingat wajah teduh Abah dan ucapannya di malam pertama pernikahan kami.
“Sum, kini kau istriku. Aku tahu, hanya Dasuki yang kaucinta dan kauinginkan menjadi suamimu. Demi Cahaya yang menulis kitab-kitab takdir berlumur cahaya di langit-langit cahaya, aku tak pernah berniat merebutmu darinya. Tapi, aku juga tak bisa menolak permintaan Habib Qudsi, juga pesan almarhum Abah yang beberapa kali datang ke separo terakhir malammalamku, yang selalu memintaku untuk menikahimu. Keduanya berpesan bahwa kamu perempuan terpilih, yang mampu mendampingi dan menjagaku, juga mendampingi dan menjaga pesantren ini.”
Aku masih tak bisa berkata-kata saat Abah melanjutkan, “Tak perlu khawatir, Sum, malam ini aku tak akan menyentuhmu karena aku tahu hanya Dasuki yang bertakhta di kerajaan jiwamu. Hanya jiwa Dasuki yang mengalir pada setiap aliran darahmu. Hanya nama Dasuki yang berdetak di jantungmu.”
Rupanya, penglihatan batin Abah sungguhlah tajam. Beliau tahu, hingga malam ini, 21 tahun setelah malam itu, aku belum mampu menghapus Dasuki dari dalam hatiku. Kesungguhan Abah dalam menjaga cintaku ternyata juga menyiksaku, menyiksa jiwa dan ragaku.
Aku tidak hanya terbebani dengan pertanyaan kerabat atau bisik tamutamu yang datang dan pergi ke pesantren kami tentang apakah aku ingin punya anak atau tidak, apakah aku memakai alat kontrasepsi atau tidak, apakah aku mandul atau tidak, dan apakah-apakah lain yang sungguh menyakitkan. Aku lebih terbebani, tersakiti, dengan kesepianku, dengan naluriku, dengan keperempuananku, dengan birahiku. Karena sejak menikah hingga kuceritakan ini kepadamu, Abah belum sekali pun menyentuh kesucianku layaknya seorang suami kepada istrinya.
Menjadi apa dan siapa pun aku di siang hari, di malam hari aku tetaplah seorang perempuan, tetaplah seorang perempuan… (*)
Ahmadul Faqih Mahfudz. Pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Sidogiri, Jatim. Kini alumnus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta yang dikenal sebagai penulis tersebut tinggal di Bali.