Anjing

Tepat di depan pintu, dia menarik gagang pada pintu. Menariknya sampai pintu terbuka. Dilihatnya seekor anjing sigap berdiri menatapnya tajam. Grrrr….

Anjing itu menggeram melihat lelaki yang ada di hadapannya. Rasanya ingin sekali dia menerkam lelaki yang menjadikannya beringas. Dia yang memelihara hewan itu sebagai penjaga, malah dibiarkannya kelaparan berhari-hari.

Bukan hanya itu. Si anjing juga teramat marah menonton sebangsanya dihantam, hingga terbujur kaku. Kalian bayangkan saja, jika keluarga kalian dibunuh hingga mati, bagaimana perasaan kalian?

Lelaki itu mengangkat kedua tangan yang memegang kursi, siap menghajar anjing di depannya. Perlahan anjing itu mendekat, ingin melawan. Ketika pertarungan segera dimulai, datang seekor anjing dari belakang tubuh lelaki itu. Anjing berbulu cokelat itu menggeram menatap anjing berbulu hitam. Perseteruan akan dimulai. Bukan antar lelaki itu dan anjing berbulu hitam. Melainkan sesama anjing.

Perkelahian terjadi. Kedua anjing itu bergulat satu sama lain. Lelaki itu berlari mencari tempat aman. Dia naik ke gedung lantai dua. Memasuki ruang. Dilihatnya lagi ada beberapa ekor anjing bermacam warna di sana. Anehnya anjing-anjing itu malah mendekatinya. Mengaing dan menjilati betis lelaki itu.

Dia merasa jijik, dia keluar dari ruang dan menutup pintunya. Kembali dia membuka pintu-pintu, mencari tempat persembunyian.

“Mau sembunyi di mana? Anjing itu tetap mencarimu sebagai majikannya.”

“Tidak, aku tidak merasa memelihara anjing.”

“Andai saja kau memelihara hewan itu dengan hati bukan dengan egomu, mereka akan setia padamu.”

“Tidak. Aku tidak memelihara anjing.”

“Jika tidak, mengapa mereka mengejarmu. Bukankah ini rumah kita?”

Lelaki itu berlari, mengabaikan suara yang tidak jelas. Dia meneruskan membuka pintu de­mi pintu. Tidak ada ruang kosong, semua berisi anjing selain ruang kerjanya. Sayangnya, di ruang itu gelap dan sesak.

Dia menuruni anak tangga, mau tidak mau harus kembali ke ruang kerja atau mencari mobilnya. Dia harus segera pergi. Tempat ini bukan lagi tempat layak baginya.

Seketika dia menghentikan langkah, terpaku melihat pertarungan kedua anjing itu telah usai. Anjing berbulu hitam telah memenangkan kompetisi. Dia belum bisa menghirup udara dengan tenang, kini harus berhadapan dengan anjing berbadan besar hampir separuh badan lelaki itu. Dia harus menghajar anjing itu dengan tangan kosong.

“Hah. Rasakan sekarang.”

Arsip Cerpen di Indonesia