Lagi. Terdengar suara tidak jelas sumbernya. Anjing berbulu hitam itu meninggalkan anjing berbulu cokelat yang mengerang kesakitan. Tubuhnya sudah terkulai di beranda ruang kerja lelaki itu. Anjing berbulu hitam berjalan menghampirinya.
Lelaki buncit itu memundurkan langkah. Dia memasang mata was-was, mengharapkan ada keajaiban datang memberikannya senjata. Anjing itu mulai mendekat.
“Mau lari ke mana kau, hah?”
Kini, lelaki itu tersadar bahwa sumber suara itu datang dari tubuh makhluk berkaki empat di hadapannya. Ya, anjing itu sedari tadi berbicara padanya.
“Tidak. Tidak mungkin kau berbicara padaku.”
“Mengapa tidak? Bukankah aku ini adalah kau.”
“Apa maksudmu, hah?” Tanya lelaki itu.
Tiba-tiba seekor anjing itu menjatuhkan diri ke tanah. Dia menggetarkan tubuhnya, terlihat keempat kakinya memanjang dan mengeluarkan jemari. Badannya yang penuh bulu menjelma tubuh manusia. Dia berubah jadi manusia yang menyerupai lelaki itu. Si lelaki menundukkan tubuh, kaki dan tangannya menyentuh tanah. Sekejap dia berubah menjadi anjing.
“Pak, bangun. Waktunya makan.” Tegur seorang perempuan muda.
Lelaki itu terhentak. Dia mengerjapkan matanya. Hujan telah mengguyur kota. Lelaki berkumis tebal itu mengelap wajah dengan telapak. Matanya menyisir seisi ruang. Menghela nafas.
“Syukur saja sekadar mimpi,” bisikknya
“Mimpi apa, Pak?” tanya perempuan itu.
Lelaki itu menggeleng. Perempuan itu pergi meninggalkannya menuju kantin kampus.