“Kamu perlu duit banyak, Suci!” Papa mengejarku ke dapur ketika aku membuat minuman untuk tamu berduit itu. “Buat bayar semester kuliahmu. Juga kosanmu,” Papa menatapku. Direngkuhnya bahuku. “Rayulah dia, Suci. Purapuralah kamu menyukainya.”
Lagi-lagi, aku tak menjawab. Tak kukeluarkan sepatah kata pun. Hanya mengangguk. Yang bisa kulakukan, hanya mengangguk, seperti sebelumnya. Toh tak ada artinya berucap, bisa-bisa akau salah ucap dan akan membuat Papa marah. Kendati aku menolak hingga menangis darah, aku tetap harus melakukan semua itu. Menjadi gadis yang akan memberikan kenikmatan pada pria. Papa tak akan pernah mendengar jeritan hatiku kalau sebenarnya hatiku berontak. Papa tak akan menghiraukanku. Aku pun harus pasrah juga sadar. Kalau tak mau, bagaimana dengan biaya kuliahku sedang aku sangat ingin menjadi sarjana? Biaya kosku? Makan dan pakaianku? Juga keperluan Papa setelah tiga tahun tak memiliki pekerjaan tetap.
“Kamu harus ingat, Suci… Papa yang membuatmu berada di dunia,” jelas Papa ketika suatu hari aku pernah meminta berhenti dari pekerjaan mencari uang dengan cara seperti itu.. Ya, aku tak lupa. Kalau bukan karena Papa, tak mungkin aku terlahir ke dunia, tak mungkin aku beranjak menjadi remaja yang cantik, disukai banyak teman pria di kampus, disukai teman Papa yang akhirnya… ingin memilikiku. Memiliki bukan hanya cintaku tapi tubuhku.
Willy, bukan pria pertama yang mencintaiku. Bukan pula pria pertama yang memberiku uang. Belasan Willy pernah datang. Namun mereka pergi dengan segera setelah tak lagi memiliki uang untuk membeliku atau sudah bosan denganku karena telah memiliki gadis lain yang tentunya lebih cantik dan menggiurkan.
“Kenapa melamun, Suci?” Willy memegang bahuku. Tangan satunya membelai rambutku lalu merapikan ujung rambut yang menjuntai di bahu. Dikecupnya pipi kiriku. Lembut dan mesra. Aku bergidik berusaha menahan mual. Setelah lima bulan, pria ini belum juga pergi. Uangnya tak habis-habis. Semua kebutuhanku dipenuhinya. Juga kebutuhan Papa. Tak ada gerutu kecil berkepanjangan di rumah setiap kali aku pulang karena Papa tercintaku tak lagi kesulitan dalam uang setelah kenal dengan Willy, setelah Willy benar-benar jatuh hati padaku. Setelah Willy tak lagi menganggap aku hanya pelepas dahaga namun kekasih. Ya, kekasih. Willy yang beranggapan itu. Sementara aku? Haruskah hatiku kuberikan padanya? Karena dia baik dengan uangnya yang terus memenuhi dompetku, biaya kuliah yang tak tersendat lagi, bayaran kontrakan di tempat para mahasiswa kaya dengan fasilitas lengkap, juga mobil yang sering nongkrong di kampus, dengan sopir yang ditugaskan Willy, khusus untuk menjemputku, kekasih hatinya. Aku muak dianggap kekasih di hadapan orang banyak. Bukan hanya di depan Papa, teman-teman Willy yang hobi ke klub malam, tapi juga di depan ibu kos dan para penghuni yang kebanyakan teman kuliahku di kampus. Dengan bangganya Willy memproklamirkannya.