Suci Penuh Debu

“Atau… kamu bosan kita bercinta di hotel?” mata Willy menelusuri tubuhku dengan tatapan liar. Menyebalkan. “Mau dimana? Pantai, gunung, sungai, vila di puncak.. atau… di rumahku? Di kamarku?”

Tenggorokanku tersedak. Ada sesuatu yang ingin keluar. Aku ingin muntah. Kalau bisa di mukanya yang mulai keriput. Namun masih dapat kutahan. Bagaimana dengan Papa kalau tahu aku berbuat hal yang tak pantas pada pria yang telah membuat aku dan Papa bertahan melewati hari-hari dalam hidup yang berkecukupan setelah sebelumnya kesengsaraan menghimpit kami.

Aku tak bergeming ketika tangan Willy mulai meremas tanganku. Bahuku. Pundakku. Kudukku. Semuanya. Aku tak boleh berontak. Kalau berontak, semua yang pernah diberikan, harus kukembalikan. Papa pun akan dipenjara. Apakah aku tega melihat Papa, pria yang telah membuat aku menatap dunia, meringkuk di penjara karena ulahku?

“Jangan pernah sekali-kali lagi berjalan dengan pria lain sekalipun dia teman kuliahmu,” Willy merengkuh tubuhku dengan setengah memaksa. “Aku tak akan mengampunimu. Aku mencintaimu, Suci… Suci istriku!”

Willy jadi sering memanggilku dengan sebutan ‘istri’ padahal dia tak pernah berniat menikahiku. Dia hanya ingin menjadikanku pelepas dahaga meski diakuinya kalau hanya aku makhluk yang dicintainya.

“Aku akan nikahi kamu, Suci,” Arya meraih jemariku. Haruskah aku bahagia? Tentu saja. Arya yang akan membebaskanku dari pasungan menyakitkan selama lima tahun. Setelah aku menjadi sarjana, haruskah aku tetap menjadi piaraan Willy?

“Tak perlu kamu minta, Arya!” kubalas remasan tangan Arya.

Aku harus meninggalkan Willy. Juga Papa. Aku harus pergi. Harus.

Kugenggam erat tangan Arya. Aku akan menemui Papa. Sudah kupastikan Papa tak akan setuju dengan keputusanku. Papa lebih baik aku jadi piaraan Willy daripada menikah dengan Arya, pria yang mau menerimaku apa adanya. Pria kakak tingkatku yang sudi menjadikanku—pelacur sepertiku—sebagai istri.

Namun, aku tak mampu meraih impian itu. Sebelum berhasil menemui Papa, jiwaku melayang. Menebus amarah Willy. Dia menembak kepalaku.

Di hadapan pria seumur Papa, nyawaku meregang. Terbang melayang. Bersama debu.

 

Komala Sutha lahir di Bandung, 12 Juli 1974. Menulis dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Tulisannya dimuat di berbagai majalah dan surat kabar. Cerpen dan puisinya terbit dalam beberapa buku karya tunggal serta antologi bersama.

Arsip Cerpen di Indonesia