“Siapa pria yang sering datang ke kosanmu itu?” Arya, menatapku penuh selidik. Kutundukkan muka. Tak kuasa membalas tatapannya yang seolah menelanjangi hatiku. Aku malu. Arya aktifis di kampus. Selain itu, dia mahasiswa yang rajin ibadah. Sudah sebulan kami dekat. Beberapa kali dia pun memergoki aku dijemput ke kampus dengan sopir Willy, bahkan Arya pernah melihat pria seusia Papa itu datang ke kosan. Mengajakku pergi dengan tangan melingkar mesra di tubuhku. Bukan rengkuhan seorang ayah. Meski kudengar Arya tak pernah pacaran semenjak jadi mahasiswa, namun dia bukan pria muda yang bodoh. Tentunya dia pun mengartikan rengkuhan Willy di tubuhku.
“Teman Papa,” jelasku, lalu beranjak meninggalkan Arya yang masih mematung di depan ruang kuliah. Semoga jawabanku cukup menjelaskan. Teman Papa. Ya, teman Papa.
“Berbahagialah kamu, Suci. Sekarang kamu tak perlu lagi berganti-ganti pria. Karena cukup dengan kenal Willy saja, keperluan kita terpenuhi.” Papa lalu melepas tawa. Kutatap wajah Papa. Wajah yang seolah tak merasa bersalah setelah tiga tahun menjual tubuhku. Mulutku bungkam. Seperti biasa, tak ada yang keluar dari mulutku meski hanya satu kata. Percuma. Sia-sia. “Kamu milik Papa, Suci. Jadi, apa yang Papa minta, harus kamu turuti.”
Kulangkahkan kaki dengan gontai meninggalkan rumah yang bukan hanya telah memberikan kasih sayang yang tulus dari Papa. Kasih sayangnya ketika aku masih kecil. Lalu kasih sayang Papa padaku berubah semenjak aku remaja. Kasih sayang yang harus dibuktikan dengan sikap patuh tanpa harus protes. Menjadikan aku mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi swasta ternama dengan kehidupan yang layak, menurut Papa adalah bentuk kasih sayang Papa. Dicintai pria seusianya, meski telah beristri adalah juga ihtiar dan doa Papa. Aku harus menyadarinya. Itu yang selalu Papa ingatkan setiap kali aku ingin berontak.
“Apa yang kamu inginkan sayang?” Willy menyentuh lenganku. Tiga tahun dia menganggapku kekasih. Tiga tahun dia memenuhi kebutuhanku dan Papa. Tiga tahun pria ini membuat hati Papa bahagia. Tiga tahun pria ini menjauhkan semua pria muda yang ingin mendekatiku. Tiga tahun juga pria ini membuat Arya hanya mampu menatapku dari kejauhan. Menyimpan dalam-dalam cintanya. Cintanya yang seharusnya aku sambut, namun Willy begitu cepat menghadangnya.
Aku hanya menggeleng. Tak ada artinya bicara. Kalaupun harus bicara, apa harus jujur? Mengatakan yang sebenarnya? Pria ini bisa murka kekasih tercintanya mencintai pria lain.