Aroma Darah di Antara Bunga Eastern Redbud

“Apa mereka tak lelah? Akan jauh lebih baik mereka tak mengganggu kerja kepolisian. Bukankah aksi mereka hanya akan menghambat penyelidikan peristiwa itu? Mereka hanya membuang-buang tenaga saja,” keluh Hailey.

Eva menatap bangku-bangku yang ia tata sebagai tempat duduk pembeli yang datang. Kosong. Sejak buka, belum ada satu pun pembeli. Ia tak memungkiri, pembeli berkurang sejak peristiwa itu mencuat ke permukaan. Jika penghasilan sedikit, itu artinya Hailey akan cerewet sepanjang hari.

“Aku berharap keparat itu segera tertangkap. Ia harus dihukum seberat-beratnya. Jika aku mengetahui siapa ia, akan aku benamkan wajahnya ke penggorengan penuh minyak panas ini,” lanjut Hailey sambil mengangkat kentang goreng yang sudah matang.

Eva masih diam mematung. Wajahnya memucat. Ingatan akan malam penuh aroma darah itu berkelebat di kepalanya. Aroma darah yang kini mengocok isi perutnya. Lambungnya ngilu. Terasa diperas dan ditarik ke sana ke mari. Dan aroma darah itu masih ia ingat dengan jelas hingga sekarang.

***

Malam ini, Eva merasa awal musim panas terasa lebih menyengat dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Di Westmount, musim panas menjadi musuh tersendiri. Para warga tak terbiasa dengan terik matahari yang menyakitkan mata di siang hari dan malam hari yang berkeringat. Hampir tengah malam, Eva masih betah duduk sendirian di taman kecil dekat Rumah Sakit CLSC Verdun.

Satu jam yang lalu, Eva dan Hailey menutup gerai poutine mereka. Sebenarnya tak ada jam buka yang pasti, dimulai dari waktu makan malam tiba sampai menjelang tengah malam. Di sisi bangku taman yang ia duduki, seporsi poutine sisa jualan telah mendingin. Ia tak berminat memakannya. Sedangkan di sisi yang lain, beberapa kaleng bir tandas isinya. Malam musim panas akan sempurna oleh kehadiran bir.

Eva menghela napas panjang. Entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ditatapnya sisi timur taman. Di sana, tempat ia dan Hailey mangkal berjualan poutine. Sekarang tempat itu kosong. Ia sedang mengkhawatirkan Hailey, sahabatnya sejak taman kanak-kanak. Tadi sebelum ia menutup gerai, ia sempat berdekat dengan Hailey. Eva menyinggung perihal gerai poutine mereka yang tak ada peningkatan. “Apa kita masih bisa menyewa sebuah gedung dengan pendapatan sebesar ini?” tanya Eva setelah Hailey menghitung pendapatan hari ini. Ia seharusnya tahu Hailey sangat sensitif perihal gerai poutine. Dan ia marah. Eva hampir saja mengatakan ia ingin berhenti dari kerja sambilannya karena terbawa emosi, tapi ia masih bisa menahan diri mengingat bagaimana sahabatnya banyak membantunya di masa lalu.

Arsip Cerpen di Indonesia