Aroma Darah di Antara Bunga Eastern Redbud

Tiga tahun yang lalu, Eva langsung menyanggupi permintaan Hailey bekerja sambilan di gerai poutine yang akan ia buka. Pagi harinya ia kuliah. Malam harinya ia bekerja sambilan. Hailey sangat terobsesi memiliki restoran poutine waralaba di seantero Kanada. Dan Eva memberikan semangat tanpa memikirkannya dahulu. Ia baru menyadari betapa sulit bersaing dengan restoran cepat saji dan waralaba yang datang dari Amerika Serikat. Hailey percaya diri, resep poutine turun-temurun dari keluarganya adalah yang paling khas di Kanada. Tapi seenak apa pun poutine, tetap akan kalah bersaing dengan restoran cepat saji dari Amerika Serikat yang juga menyediakan poutine. Tempat yang nyaman tidak dimiliki Hailey.

Cepat atau lambat, Eva tetap akan berhenti dari pekerjaan sambilannya. Musim panas ini berakhir, ia memasuki semester akhir. Waktunya akan banyak terkuras untuk mempersiapkan tugas akhir. Dan ia ingin berhenti secara terhormat tanpa menyakiti hati dan obsesi Hailey. Di sisi lain, ia ingin menemani Hailey mewujudkan obsesinya walaupun ia tahu bagaimana hasilnya.

Rombongan mobil melintas di jalan samping Eva duduk. Udara kering menerbangkan debu-debu, menampar pipinya. Debu-debu kotor tak cukup menyakitinya. Pohon-pohon eastern redbud yang memenuhi isi taman, wangi bunganya mencuri indra penciumannya ketimbang debu-debu kotor. Ia menyukai eastern redbud. Pohon dengan bunga berwarna merah muda dan wanginya yang manis mengundang ingin dicicipi. Tapi ia lebih menikmati aromanya ketimbang merasakan manis bunga itu di lidahnya.

Eva memejamkan mata. Merasakan wangi bunga estern redbud lebih dalam. Ia membayangkan mandi di antara bunga-bunga eastern redbud. Sedangkan air mengucur deras dari atas tebing. Air yang berwarna merah darah. Darah? Seketika penjelajahannya sirna. Ia membuka mata dengan napas pendek dan terputus-putus. Ia amat membenci darah dan aromanya. Setiap ia mencium aroma darah, kepalanya dipenuhi oleh kolam darah dari darah ibunya yang meninggal bunuh diri dengan cara merobek perutnya.

Pandangan Eva menyapu ke penjuru taman. Mencari sumber aroma darah di antara bunga eastern redbud. Ia merasakan aroma darah yang ia cium begitu dekat. Tak mungkin dari rumah sakit. Tiga tahun ia berjualan di taman ini, belum pernah ia mencium aroma darah. Di sisi utara taman, ia menajamkan penglihatan pada sosok yang familier. Emily, salah satu dokter bedah di rumah sakit dekat taman ini, masuk ke mobilnya.

Arsip Cerpen di Indonesia