Secara tak terduga, kupu-kupu itu ternyata menggeser tubuhnya perlahan, lalu bertengger di telapak tangan Rika. Rika tersenyum, menarik tangannya ke bawah, setara wajah, hingga kupu-kupu itu kian berkepak-kepak di depan matanya, seperti menari khusus untuk Rika. Bibir Rika tersenyum, tapi sepasang matanya merembes butiran dingin. Ia terisak. Kepalanya meng geleng-geleng pelan. Matanya lekat terpaku pada sayap kupu-kupu itu.
Di antara sepasang sayap kupu-kupu yang berwarna kuning, bergaris merah halus, dengan taburan titik oval halus mirip tumpahan beras itu, mata Rika seperti menemukan sebuah pemandangan, berupa gang sunyi gedung bekas pertokoan yang diambung bau bir dan alkohol, diminati belasan kucing, disukai para pemabuk.
Di depan salah satu gedung itu, ia melihat sosok dirinya di masa lalu, sedang duduk di balai-balai, dengan rambut tergerai tanpa tali pengikat, wajah berpupur kosmetik, bibirnya dipoles warna lipstik, tentu dengan pakaian seminim dan seketat mungkin demi memperlihatkan keindahan tubuhnya kepada siapa pun yang datang. Lalu, bertransaksi sebelum akhirnya masuk ke kamar itu dengan seorang lelaki dan menguncinya dari dalam.
Ia pun teringat, peristiwa terburuk pada suatu subuh yang didera hujan, seorang lelaki bejat tak mau membayar tarif, padahal ia sudah menemaninya semalaman. Sudah begitu, ia menampar Rika hingga berdarah dan jatuh pingsan. Tak cukup dengan itu, si lelaki bejat membawa kabur perhiasan, uang, dan ponsel Rika.
“Maaf, Mbak. Sebaiknya Mbak pindah ke sana saja. Di sini mau saya bersihkan!” seketika suara penjaga masjid itu membuyarkan lamunan Rika.
“Oh, iya, Mas!” suaranya gugup, tangan kirinya menyeka air mata yang melumasi seluruh datar pipinya. Dan kupu-kupu di tangannya, seketika mengepakkan sayap dengan cepat, terbang melesat ke atas, tatap Rika tetap membuntuti arah terbang kupu-kupu itu yang tak seperti kupu-kupu pada umumnya, ia terus terbang ke atas, hingga lenyap seolah masuk ke rahim langit.
“Mohon maaf, Mas! Sejak tiga hari yang lalu saya selalu numpang di masjid ini,” bibir Rika akhirnya bisa mengucapkan kalimat yang telah lama terperam.
“Tidak usah minta maaf, Mbak. Masjid ini rumah Allah. Justru saya sangat bangga kepada orang-orang yang selalu ada di masjid ini. Seorang wanita ada di masjid sangatlah keren. Coba bayangkan, betapa hinanya jika wanita ada di tempat pelacuran,” lelaki itu menoleh kepada Rika, sejenak henti menyapu, tangkai sapunya ia peluk di dadanya.