Kupu-Kupu di Dalam Masjid

Ingatannya kian tajam, kian menghunjam. Butiran air matanya pecah membedaki pipinya. Celah sepasang sayap kupu-kupu itu sungguh memutar ingatannya pada lorong silam yang teramat hitam.

“Maaf, Mbak. Mumpung hujan belum deras, di sini harus saya sapu,” suara lelaki penjaga masjid tiba-tiba terdengar di sampingnya, membuyarkan lamunannya. Rika lekas menyembunyikan tangisnya dengan dua kali gerakan menyeka air mata. Lelaki berkumis tebal itu hanya tersenyum, kemudian mengayunkan tangkai sapu dengan hati-hati, tak peduli tempias hujan membasahi sebagian tubuhnya. Beberapa saat kemudian ia malah nekad, turun ke halaman masjid, menyelamatkan sandal-sandal yang dihanyut air.

Rika menggeleng-gelengkan kepala melihat kebaikan lelaki itu. Kupu-kupu di telapak tangannya masih berkepak-kepak. Suara sisa isak tangisnya berpadu dengan suara hujan.

***

Jarum jam masih pukul merentang ke angka 9. Lelaki penjaga masjid itu terlihat khusyuk bershalat Duha sendirian. Pagi itu Rika semakin menaruh rasa tak nyaman kepada lelaki itu setelah sebelumnya ia berpapasan dan lelaki itu sudah mencukur kumisnya. Lelaki itu tersenyum lembut, tapi Rika tak membalas senyum sedikit pun, seketika ada kobaran api dendam di dadanya. Setelah kumisnya dicukur, ternyata lelaki itu sama persis dengan lelaki bejat yang pernah menipu dan menyakitinya di tempat mesum beberapa tahun silam.

“Hmm, ternyata kau si durjana itu!” Rika geram, mengepal tangan, giginya rapat bergemeretak. Matanya menatap tajam, bagai lidah api siap menjangkau kayu kering. Tapi, sejenak Rika berpikir, bisa saja lekaki itu saudaranya atau hanya kebetulan mirip. Rika melepas kepalan tangannya.

Seketika kupu-kupu ajaib yang biasa bertengger di pilar pagi itu masuk ke dalam masjid, melintas di depan Rika. Beberapa kali Rika menjulurkan tangannya, tapi kupu-kupu itu menjauh dan hinggap di bagian atas peci lelaki yang sedang shalat itu.

Api amarah di dada Rika kembali berkobar saat melihat lelaki itu. Tangannya kembali mengepal kuat. Kali ini, ia meraih setangkai sapu, ia ingin memukul lelaki itu diam-diam dari belakang. Langkahnya diatur pelan tanpa suara.

“Ini kupu-kupumu, Mbak. Maaf barusan hinggap di peci saya saat shalat.”

Rika tak sadar, ternyata lelaki itu sudah selesai shalat. Ia berdiri dan balik menyodorkan kupu-kupu dengan jimpitan sepasang jarinya seraya tersenyum kepada Rika.

Arsip Cerpen di Indonesia