Kupu-Kupu di Dalam Masjid

Rika terkejut dengan perkataan lelaki yang ada di depannya. Serasa lelaki itu sengaja menyinggung Rika. Kata-katanya seperti melempar dirinya pada masa lalu yang hitam. Tapi, kemudian ia lekas menutupi keadaan dirinya dengan seulas senyum yang kaku. Lelaki itu pun membalas dengan sebentuk senyum, lalu lanjut menyapu. Rika mundur beberapa langkah, air matanya kembali menetes.

***

Bagi Rika, masjid itu sudah seperti rumahnya sendiri. Ia selalu ada di sana, betah dalam balutan mukena warna jingga, menunaikan shalat berjamaah, iktikaf, membaca Alquran atau bermain dengan kupu-kupu ajaib yang selalu datang setiap hari dan hinggap di salah satu pilar masjid itu. Rika meninggalkan masjid hanya pada malam hari seusai shalat Isya dan pada saat ingin makan di siang hari.

Hanya dengan cara tinggal di masjid itu, Rika merasa tali hidup masa lalunya yang kelam itu terputus. Ia merasakan kedamaian yang seperti bergulir dalam dadanya, terlebih ketika ia melihat kupu-kupu yang datang ke masjid itu setiap hari. Jika ada orang mendekat selain Rika, kupu-kupu itu akan cepat melesat terbang ke udara. Tapi, jika Rika yang mendekatinya, ia akan pindah ke telapak tangannya, seolah kupu-kupu itu menemukan hunian yang nyaman di tubuh Rika.

Hanya satu hal yang membuat wanita ini waswas saat ada di masjid itu, yaitu ketika hanya tinggal berdua dengan lelaki penjaga masjid yang berkumis tebal itu. Meski lelaki itu pendiam dan terlihat dingin, Rika khawatir menyimpan watak singa dalam dadanya. Masa lalunya di tempat esek-esek membuat dirinya paham sifat banyak lelaki.

Sore itu, ketika gerimis halus menjilam halaman masjid, kupu-kupu itu menari-nari di telapak tangan Rika. Rika pun takjub menatap sayapnya yang indah, lalu seperti biasa, celah sepasang sayap itu menarik pikiran Rika ke sebuah lorong kenangan di masa lalunya. Hingga ingatannya berputar ke belasan tahun silam, ia pernah bertemu dengan seseorang di teras sebuah surau, orang itu mengusir Rika dengan kasar supaya tubuhnya tidak menyentuh lantai surau.

“Hai! Perempuan najis!”

“Hai! Calon penghuni neraka!”

“Tak ada ampuan bagi perempuan yang menjual tubuh sepertimu.”

“Pergi kau! Najis! Haram! Nereka!”

Akhirnya, Rika tertatih meninggalkan surau dengan tangis yang miris kala itu, hatinya seperti ditusuk-tusuk puluhan golok. Ia nyaris putus asa untuk bertobat. Dalam dadanya, tumbuh keinginan untuk sekalian melakukan dosa sepuas-puasnya jika Tuhan sudah tidak menerima tobatnya seteah mendengar perkataan dari orang itu.

Arsip Cerpen di Indonesia