Lebaran di Hati Ibu

Mardan meletakkan ponselnya. Dia buka laptopnya mencoba mengubur resah dengan melihat kembali rancangan jalur-jalur lalu lintas yang nanti akan dilewati para pemudik.

Sebagai relawan kesehatan semasa musim mudik, Mardian harus siaga selama 24 jam menjaga posko di jalur utama Sukabumi. Begitu rindunya pulang ke Namu Rambe. Berkumpul bersama semua keluarga. Dia ingin melepas rindu masa kecilnya masak lemang pulut hitam dan cincang daun ubi pakai ikan emas.

Apa dikata kerinduan itu masih terbentur pada pekerjaannya. Selama empat tahun dia di rantau, lima hari pascalebaran baru Mardan bisa pulang. Sudah empat kali Lebaran, hari pertama Mardian juga tidak pulang ke kampung halamannya.  Tahun ini Mardian sebenarnya punya peluang untuk pulang Lebaran di hari kedua. Apa dikata?

Sinta, anak tertua Mardian butuh biaya yang tidak sedikit tahun ini. Anaknya akan berangkat ke Makasar untuk kuliah semester pertama. Dia diterima jalur undangan di salah satu perguruan tinggi di sana. Mardian harus mengumpulkan segala daya usaha mengongkosi keperluan Sinta. Karena itu, selain karena pekerjaan hari pertama Lebaran, Mardian juga harus mengabsenkan dirinya pulang ke kampung.

Ini semua untuk menambah amunisi pendidikan Sinta anaknya. Tidak mudah bagi Mardian menyelesaikan persoalan ini. Meski Mardian tahu, ibunya tidak pernah mengeluh. WA yang tak kunjung berbalas melamurkan pandangan ke jalur-jalur tugasnya yang ada di laptop. Padahal rancangan laporan itu harus dia serahkan segera ke atasannya. Mardian menarik dan mencakar rambutnya yang sudah beruban, berusaha menghalau sampah-sampah keluh dari kepalanya.

Mardian kemudian menyampaikan ini kepada Ngena, istrinya. Ngena juga tidak bisa memberi jalan keluar apa-apa.

“Kam serahkan semua sama Tuhan! Allah SWT nanti akan membantu!” Mardian sedikit terhibur mendengar kata-kata istrinya. Mereka sudah bersama berangkat dari kampung halaman 30 tahun lalu. Mardian istighfar, memohon petunjuk, apalagi ini masih bulan Ramadan. Mardian percaya bahwa Sang Mahapenyayang akan memberinya jalan terbaik.

Selepas berdoa lama seusai salat Zhuhur di masjid tadi, Mardian terhenyak sampai di rumah. Mardian melihat ibu membalas WA-nya. Cepat-cepat Mardian mengaktifkan data selular internetnya. Mardian sudah siap menerima apapun jawaban ibu. Baginya lebih baik mendapat makian dan marah dari ibunya daripada menunggu jawaban yang tak kunjung datang sejak Subuh tadi.

Arsip Cerpen di Indonesia