WA Ibu, “Maaf, Nak. Nande-mu terlambat membalas. Tadi pagi Nande Tengah-mu menjemputku. Katanya minta tolong buat kue hari raya. Nande Tengah-mu kelihatan sangat buru-buru, sampai-sampai Ibu lupa bawa HP. Terpaksalah WA-mu lama baru kubalas. Tadi kuminta sama Ronald anak Nande Tengah-mu menjemput ke rumah. Maafkan Nande-mu ya, anakku!”
Mardian lega. Dia begitu cemas menunggu WA ibu yang tak kunjung datang. Mardian masih gelisah, bukankah ibu belum memberi jawab? Mardian melihat WA-nya. Tampak di layar ponsel status ibu sedang mengetik.
Mardian mencoba memupuk sabar. Bola matanya tak lepas-lepas memandang layar ponsel menunggu kalimat Nande-nya. Dia coba membayangkan wajah ibunya yang sudah semakin renta, berjalan saja pun ibu harus lambat. Ibu tidak pernah melepas keluh tentang kondisinya itu.
Mardian teringat ketika dia masih sekolah di SMP kampungnya. Bersama ayah dan ibu, mereka bertiga sama-sama membawa pisang kepok hampir lima tandan besar memakai sebuah sepeda tua. Dua tandan di kiri-kanan stang tengah. Dua tandan di kiri-kanan bagian roda belakang. Satu tandan di atas sepeda diikat tali anyaman batang pisang. Ayah yang menjadi nakhoda sepeda.
Dia dan Ibu bertugas mendorong sepeda, terutama ketika jalan mendaki. Kalau badan lelah, biasanya Mardian minta berhenti istirahat. Tak pernah dia melihat ibu dan ayahnya yang minta istirahat. Kedua orang tuanya benar-benar orang yang kuat dan tangguh. Itu semua dilakukan demi sekolah anak-anaknya.
Tidak heran kelima anaknya tamat sarjana. Empat anaknya semua kerja di kampung. Hanya Mardian yang merantau ke Jawa. Setiap Lebaran pun ada yang menemani ibu. Tetap saja sebagai anak bungsu, Mardian merasa rindu kumpul bersama di kampung. Mardian pun merasa ibunya pasti menanak rindu berharap si bungsu dapat berkumpul bersama.
WA ibu sudah memberi tanda warna hijau pertanda sudah ada kalimat yang akan dibaca. Cepat-cepat Mardan membuka WA Ibu, “Gak apa-apa kalau anakku, kalau memang ada tugas yang lebih penting untuk orang banyak. Apalagi saat ini kau juga butuh banyak biaya untuk sekolah cucuku. Itu lebih penting. Dada Mardian lapang membaca WA ibunya. Sebuah pernyataan peneguh hati untuk melangkah ke depan.
Mardian membalas ibunya, “Nande-ku, sejak awal anakmu tahu kalau Nande seorang yang tangguh. Dalam adat kita pantang untuk tidak sekolah tinggi-tinggi. Anak-ndu tahu bagaimana dulu kerja keras Nande dan Bapak mencari harta untuk sekolah kami. Sampai menderita pun Nande tahankan. Semoga surga balasan untuk Kam berdua.” Mardian mengusap air matanya yang jatuh.