Diary Kematian

Katanya om Wira sudah insaf, ingin bersungguh-sungguh menjalani ikatan bahtera rumah tangganya bersama perempuan yang dicintainya, ingin berubah dan berbenah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Taik kucing! Keinginannya untuk berubah dan berbenah diri hanyalah keinginan sesaat, keinginan hangat-hangat taik ayam.

Hampir tiap malam Ry, om Wira pulang larut malam, alasannya karena ada meeting, meeting kok tiap malam, keharmonisan rumah tangga bunda hanyalah sesaat, bunda dan om Wira tak pernah absen bertengkar, aku takut sekali Ry ketika menyaksikan pertengkaran sengit di antara mereka berdua, sampai semua tetangga mendengar suara kegaduhan dari rumah, malu sekali rasanya Ry jadi bahan ocehan banyak tetangga. Kerap kali aku menangis histeris Ry, bila melihat om Wira memukul dan menampar bunda dengan tragis.

“Aku kecewa dengan perlakuanmu, cinta dan sayangmu hanya manis di bibir saja tapi terlampau pahit dalam jantungku, kau telah berjanji kepadaku ingin berubah dan berbenah diri, kau juga yang mengatakan akan bersungguh-sungguh menjalani ikatan pernikahan ini.”

“Kau menusukku dari belakang, alasannya meeting tapi kenyataannya apa? Kau sedang asyik bercumbu rayu dengan perempuan selingkuhanmu yang baru!”

“Kau pikir aku ini perempuan bodoh yang tak tahu kelakuan bejatmu di luar sana, kesungguhan cinta dan sayangku selama ini tak kau hargai sedikitpun.”

“Kau balas kesetiaan hatiku dengan sebuah pengkhianatan, aku telah salah menilaimu, aku menyesal telah mempercayaimu!” suara rintihan tangisan terdengar dengan pilu, aku tak tega melihat perempuan yang paling kusayangi berhujan airmata.

“Jangan pernah ikut campur dengan urusanku, aku muak melihat tampangmu, seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena selama ini aku telah memberikanmu kehidupan yang mewah, perihal uang dan harta kau tak pernah kekurangan, jika hanya mengandalkan usaha salonmu itu, belum tentu kau bisa hidup sejahtera seperti sekarang.”

“Kau selalu memakai perhiasan yang mahal dan mengendarai mobil mewah yang mentereng, kehidupanmu selalu terpenuhi secara total.”

“Dasar kau ini perempuan murahan yang tak tahu berterima kasih, jadi tak perlu lagi kau banyak menuntut kepadaku, terserah aku mau berbuat apa saja, tak ada yang bisa melarangku apalagi perempuan lonte sepertimu!”

“Kau kira aku perempuan matre, perempuan yang hanya mau menikah denganmu karena uang dan hartanya saja, kau salah besar bila menilaiku serendah itu!”

“Sekarang kau makan semua uang dan hartamu ini, aku samasekali tak mengharapkannya, buat apa hidup berumah tangga bermandikan uang dan harta bila suaminya berperilaku seperti setan.” Bunda melemparkan semua perhiasan mahal yang ia pakai ke wajah suaminya.

Arsip Cerpen di Indonesia