Diary Kematian

“Kurang ajar, beraninya kau melempar wajah suamimu sendiri dengan kasar, kau katakan perilakuku seperti setan!” prak….sebuah tamparan keras mendarat di pipi bunda, tak hanya tamparan, bunda juga dipukul habis-habisan dengan tali pinggang suaminya, tak puas memukul, lelaki jahanam itu juga menendang tubuh bunda berkali-kali.

“Jangan kau sakiti perempuan yang paling kusayangi!” bergegas aku berlari dan memeluk bunda, memohon kepada om Wira agar ia tak lagi berlaku kasar kepada istrinya.

“Kau pikir aku takut kepadamu, jangan pernah meremehkanku!” bunda meludahi wajah om Wira dan langsung berlari menjauh darinya.

“Dasar perempuan sinting!” om Wira berlari mengejar bunda ke arah dapur, meninggalkanku sendirian yang tengah menangis tak berdaya di samping lemari, takut dan bingung hal itulah yang tengah kurasakan saat ini, aku tak tahu harus melakukan apa.

Suara teriakan bunda dari arah dapur membuatku terpanggil untuk melakukan sesuatu, namun ketakutan yang mencekam membuatku tak mampu untuk berpikir jernih lagi, seakan ketakutan ini membuat pikiranku tumpul.

“Sikapmu sudah merajalela, kau pikir kau siapa, berani-beraninya meludahi wajahku, pantang bagiku bila disepelekan oleh perempuan rendahan seperti dirimu,” kali ini om Wira membenturkan kepala bunda berulang kali ke dinding, astaga! Darah pekat yang mengental kini telah merembes dari pelipis kening bunda.

Ry, lelaki setan itu bertambah nyalang dan membabi buta, ia mencekik leher bunda tanpa belas kasihan, kedua mata bunda telah meregang ke atas, airmata kegetirannya telah meleleh dengan seksama, ia berusaha meraih benda yang terdekat dengan tangannya, ia meraih botol berisi minuman keras yang ada di pinggir lemari.

Seketika itu juga dengan mengumpulkan seluruh tenaga yang bunda miliki, ia angkat botol tersebut lalu memukulkannya secara brutal ke wajah suaminya, mendadak kedua tangan suaminya terlepas dari lehernya, sekujur wajahnya telah runyam, lelehan darah telah menggenang di permukaan wajah tirus lelaki setan itu.

Ry, bunda bertambah pitam, kemarahannya membludak dan tak mampu ia redam, kemarahan yang berapi-api bagai halilintar yang menyambar, ia kembali meraih botol minuman keras yang lain lalu menyiramkannya ke seluruh wajah suaminya yang tak lagi berdaya.

Benar-benar diluar dugaan, perempuan selembut bunda mampu menjadi iblis yang liar, tak hanya seluruh wajah suaminya yang ia siram dengan air keras bahkan seluruh penjuru tubuhnya juga disiramnya dengan minuman keras tersebut.

Arsip Cerpen di Indonesia