Ibu tak lagi berharap tinggi untuk masa depan Kakak. Impian itu telah usai, melayang bias ditelan angkasa jauh. Ia paham untuk meletakkan hari esok pada tempatnya; yang tak terbaca dan dimengerti.
Dapat memberi makan cukup tiga kali sehari, menyisihkan uang jika tiba saatnya harus berobat, atau sesekali membelikan Kakak mainan memang bukanlah sebuah kemewahan. Ibu harus berkejaran dengan nasib. Agar bisa menambal kebutuhan sehari-hari, beberapa ruangan di lantai dua disekat untuk usaha kamar kost. Cukup untuk enam kamar. Setelah berhenti dari jasa menjahit, yang waktunya tersita mengurusi Kakak, Ibu tak memiliki pemasukan lain selain menerima jasa setrika para penghuni kost.
“Kalau dihitung-hitung, usia Kakak sekarang sudah dua-puluhan,” tutur Ibu di suatu malam, seolah berbincang-bincang, memandangi anak semata wayangnya yang sedang merangkai potongan lego.
“Kakak ulang tahun?”
“Ya, besok Kakak ulang tahun. Mau hadiah apa?”
“Bapak.”
“Kakak…Ibu kan pernah cerita. Bapak sudah pergi. Tak akan pulang lagi ke rumah ini.”
“Pergi? Ke surga?” Tanya Kakak tanpa melihat Ibu.
“Ya, ke surga.”
“Di surga banyak mainan, Bu?”
“Banyak. Semua yang Kakak mau ada.”
“Kapan kita ke sana, Bu?” Pinta Kakak menggetarkan Ibu. Sekelebat wajah melintas, melemparnya ke masa lalu. Saat usia dua puluh. Surga yang pernah terbayang di depan mata, telah dirancang sedemikian rupa kala Dera, lelaki pilihan Ibu, datang untuk melamar. Keinginan kuat yang tak bisa diredam, meski Ayah sempat berujar setengah lelucon, “Semua lelaki terlihat baik sampai dia membuatmu menangis, sendirian di malam sunyi. Kalau itu terjadi, aku sendiri yang akan menghajarnya.”
Bagaimanapun, Ibu merasa jadi perempuan paling berbahagia saat itu. Tiada hari berlalu tanpa senda tawa. Sampai kemudian Ibu akhirnya mengandung dan melahirkan Kakak. Di usia empat, Kakak masih belum bisa bicara. Kakinya lunglai. Tangannya tak mantap memegang sesuatu. Tubuhnya hanya tiduran di kasur dengan tatapan lekat ke layar TV. Dengan tekun penuh kesabaran, Ibu membawa Kakak secara rutin ke pusat terapi. Melatih fisik Kakak di rumah. Pergi ke orang pintar. Apa saja supaya Kakak bisa berlaku selaiknya anak kebanyakan. Malangnya, sejak saat itu perilaku Dera mulai berubah. Sering menyalahkan keadaan. Bila sudah begitu ia akan meracau, bicara tentang kutukan, menyalahkan Ibu.