Dunia Kecil di Kepalaku

Malam itu ia duduk di bawah pijar lampu gantung. Tertopang siku, menghadapi Ibu di meja makan, wajahnya tertunduk resah. Ibu tak menduga bila harinya akan tiba. Bibirnya kelu. Jemarinya saling mencengkram, gelisah.

“Kita bisa menitipkannya ke panti atau siapapun yang sudi mengurus. Kita kirim biaya bulanan. Percuma, di kepalanya kita ini bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa.”

Kalimat itu menghujam, beranak-pinak menyayat luka. Ibu dihadapkan pilihan pahit: menyelamatkan pernikahan atau hidup membesarkan Kakak seorang diri. Anak itu tidak bersalah.

Mata Ibu sembab. Dadanya menyempit, remuk redam.

Bapak tidak berada di surga, Kak. Dia masih hidup entah dimana. Mungkin telah memiliki keluarga baru. Ibu tak perduli. Bagi Ibu, Bapak telah mati.

***

Matanya menatap tajam sebuah adegan genting. Seekor makhluk berbulu ancang-ancang mengintai sekawanan makhluk bertanduk yang sedang minum di sisi sungai kecil di sebuah tempat yang kerontang. Dalam hitungan detik, mereka yang lengah adalah tumbal bagi sekawanan lainnya. Taring itu secara gamblang merobek daging segar yang lemah tak berdaya. Darah mengalir pekat. Sedari tadi mata Kakak tak lepas dari layar televisi yang menayangkan dokumenter tentang alam liar. Celananya basah. Ibu yang mendapatinya kemudian tersentak. Kejadian lagi.

“Sudah berkali-kali Ibu bilang. Kalau pipis, ke kamar mandi, Kak!”

Ibu kesal. Kakak teriak-teriak tak jelas. Kali ini teriakannya kencang sekali. Seperti singa yang mengaum. Badannya yang tinggi besar mondar-mandir seolah memperagakan sesuatu. Saat Ibu mengepel lantai, tubuhnya tiba-tiba terpental. Sesuatu mendorong Ibu dari belakang.

“Kakak tak boleh begitu sama Ibu!”

Kakak teriak lagi. Lalu beranjak ke ruangan lain. Suaranya menggema. Ibu setengah kesulitan berusaha bangun. Lantai kamar jadi basah ketumpahan air sabun yang ia bawa. Ibu geleng-geleng kepala. Kali ini Kakak tertawa. Mungkin akibat cecak yang berkejaran hendak kawin atau lembam di ingatan yang salah diterjemahkan oleh sekian laku ekspresi selain tawa. Jenis gelak yang menyendiri. Entahlah.

Insiden serupa tak sekali dua kali kerap terjadi di rumah ini. Bukan barang aneh bagi para penghuni indekos. Mendengar keributan, mereka akan langsung bertanya dari lantai atas.

Arsip Cerpen di Indonesia