Dunia Kecil di Kepalaku

“Jika dengan perpisahan yang tak seharusnya terjadi itu kita menemukan arti yang benar-benar murni, hingga pada tujuan terang mengapa tiap kehidupan harus dilahirkan, maka aku memilih hidup dengan ketidaksempurnaan dunia demi kasih yang menakdirkan aku menjadi seorang Ibu.” Nanarnya menyerana.

Kakak langsung meleburkan diri dalam kamar. Sejak suaranya yang nyaring menggema di lorong rumah yang sedang sepi ini bertautan dengan kisah yang dibayangkan, tubuh tua Ibu terbaring lemah di sofa lapuk dengan pintu yang masih terbuka dan cahaya lamat-lamat memudar seiring embusan angin mengendus hortensia, membelai sulur-sulur putih di kepala. Helaan napasnya tak teraba.

Sebentar saja sunyi, Kakak langsung kehilangan. Menyadari sang Ibu tak juga bangun dari tidur meski telah diganggu sedemikian rupa, benaknya tertuju ke arah pintu samping, bagian barat rumah yang tersambung oleh beberapa anak tangga menuju lantai dua. Tepat di batas itulah sisa keberaniannya. Dunia lain sesudahnya bagai rimba raya penuh misteri yang menakutkan. Dunia yang selalu dihindari tiap kali Ibu memanggilnya dari jauh.

Tapi kali ini ia memberontak. Setapak demi setapak anak tangga ia susuri dengan susah payah hingga berhasil tiba di depan pintu sebuah kamar yang terbuka. Kamar salah seorang penghuni yang kini sedang menceritakan kembali sebuah kisah yang pernah dilaluinya di suatu masa.

 

(Januari 2019)

D. Hardi, menulis cerpen dan puisi, menetap di Bandung. Karya terbaru, buku: Antologi puisi tunggal ‘Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari’-Jejak Publisher (2019), antologi cerpen bersama ‘Masa Depan Negara Masa Depan’-Surya Pustaka Ilmu (2019).

Arsip Cerpen di Indonesia