“Nggak apa-apa. Biasa, Kakak…” timpal Ibu datar. Tubuh rentanya melunglai. Tergopoh-gopoh, Kakak datang lagi memperlihatkan sesuatu di tangannya.
“Lihat Bu, ada burung di ruang tamu.”
Ibu membalas Kakak dengan senyuman kecil. Itu capung, Kak.
***
Sebelumnya ia memilah-milah antara figur manusia super warna-warni, mobil yang mampu mengubah dirinya menjadi robot, pistol-pistolan (yang langsung disingkirkan Ibu), dan sekawanan binatang liar berkaki empat, sampai kemudian menjatuhkan hati pada sosok boneka lumba-lumba, di rak paling bawah di sebuah toko mainan tua bernama Arkadia.
Ia teringat pada hamparan laut yang membiru di layar TV pajangan sebuah gerai elektronik, saat sekawanan lumba-lumba berenang dengan lincahnya, bebas membelah arus air yang tak terlihat akan berujung ke ufuk terjauh. Gerakannya begitu harmonis. Terdengar pula olehnya siulan-siulan ganjil yang menyaru pada debur. Ia meyakini jika lumba-lumba itu sedang berbicara satu sama lain. Mereka berbahasa melalui getaran, tanpa kalimat-kalimat sempurna yang panjang tak berkesudahan. Atau bahasa-bahasa pendek penuh kiasan, yang sering dilontarkan orang dengan maksud berlainan. Bahasa rumit yang hobinya berkelit.
Sepanjang perjalanan pulang, jemarinya kukuh menggandeng tangan Ibu, yang serasa tinggal belulang berbungkus kulit namun masih mampu membuat segalanya menjadi mungkin. Ibu melangkah pelan dengan daya paling tegar dari apa pun untuk selalu ada di sisi Kakak. Mengabulkan keinginannya. Mengacuhkan pandangan gasal orang-orang, bisik-bisik tak penting selama ini untuk ditelan. Melupakan rasa lelah yang membuatnya makin susah bila Kakak tiba-tiba tantrum. Menjerit, atau meronta dengan hebat di mana saja tak perduli tempat. Pernah teriakan itu, yang mudah dikira sebagai amarah, membuatnya jadi pusat perhatian para pengunjung di sebuah pertokoan dengan tatapan aneh orang-orang sebelum seorang petugas membantu Ibu menenangkan saat Kakak cukup diberi waktu mengekspresikan maksudnya. Tiada yang bisa diperbuat selain memberi kesempatan emosional yang wajar baginya.
Di dekat akasia, hanya tinggal beberapa blok lagi dari rumah, langkah Ibu terhenti. Sengatan matahari membuat badan makin payah. Dilihatnya Kakak sudah tak sabar melongok bawaan yang ditenteng sejak turun dari angkutan umum. Ia ingin cepat bermain dengan lumbalumbanya. Mengisi kepala dengan dunia kecil yang mencukupkan semua.