Kinanti

Meski Kinanti telah menjadi istri sah Prasetyo, pemuda-pemuda yang dulu pernah menaruh hati kepada kecantikannya banyak yang menaruh kecurigaan tak berbukti pada Prasetyo. Mereka menuduh bahwa Prasetyo tidak tulus cintanya kepada Kinanti. Mereka menuding bahwa Prasetyo menggunakan gendam atau jampi-jampi mantra untuk bisa menaklukkan hati Kinanti. Sebelum Kinanti kenal dengan sosok Prasetyo, memang ada beberapa laki-laki lain yang tak kalah tampan dan menariknya dari Prasetyo. Sebagian mereka juga rela berkorban apa pun buat Kinanti asalkan Kinanti mau diperistri.

Selain berparas cantik, tubuh sintalnya memang begitu menggoda. Namun, dia adalah istri setia bagi suaminya, Mas Pras. Semenjak menikah tiada hari yang dilalui tanpa kemesraan yang kian erat terjalin di antara mereka berdua. Bagai api dan bara mereka saling percaya. Menjaga perasaan pasangan adalah modal utama kasih sayang Kinanti dan Prasetyo. Dan benih cinta mereka kemudian hadir ke dunia sebagai bayi mungil nan cantik. Kania—mereka menamainya. Makin lengkaplah kebahagiaan keluarga kecil mereka di kampungnya.

***

Meski toh alur kehidupan seperti terasa lambat berganti, Kinanti mampu melewatinya tanpa kecemasan secuil pun akan segala macam peliknya hidup. Apa yang didapatnya dari Prasetyo, mampu ia jadikan sebagai kasih sayang baginya dan tentu juga Kania. Kinanti selalu menampik apa yang diomongkan sebagian warga kampung yang berkata, “Kenapa dia mau-maunya memilih Prasetyo sebagai suaminya.” Karena kecantikan Kinanti masih mampu menyihir mata lelaki yang tentu lebih kaya dan mapan daripada suaminya yang hanya seorang buruh pabrik dan upahnya tak tentu. Terlebih lagi kalau di kampungnya sedang musim tandur, pabrik jadi semakin jarang beroperasi, syukur-syukur upahnya bisa cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Kinanti tetap kukuh dan tak mau memalingkan hatinya kepada siapa pun selain Mas Pras. Lebihlebih Kania, bayi mungilnya kini sudah mulai belajar melangkah. Kania sudah bisa memanggilnya bunda. Lihatlah, betapa lucunya Kania bila sedang diajari berjalan oleh ayahnya di halaman rumah. Saat Prasetyo sudah pulang dari pabrik. Meski lelah, namun lucunya Kania mampu mengobati segala payah seharian, seperti utang yang terlunaskan.

Kinanti tak bisa lagi terpisahkan dari Prasetyo dan tentu anaknya, Kania, yang paling disayanginya. Lihatlah betapa cemasnya hati Kinanti bila anaknya jatuh sakit dan tidak bisa bermain seperti biasanya. Naluri keibuannya tidak perlu disangsikan lagi. Bahkan bila sakit anaknya bisa dipindahkan ke tubuh Kinanti, tentu dia mau melakukannya agar Kania bisa selalu ceria seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada kebahagiaan lain untuknya selain melihat kembali senyum Kania.

***

Arsip Cerpen di Indonesia