Kinanti

Sudah tiga bulan lebih kampung Kinanti tidak juga dicurahi hujan. Pohon-pohon kian mengering– bagai tercekik. Tanah areal persawahan nampak serupa tembikar pecah. Retak seluruh. Tak terkecuali sumur-sumur yang kian menipis airnya. Kepala dusun sudah sering mewanti-wanti kepada semua warganya untuk sebisa mungkin menghemat persediaan air agar penduduk kampung tidak sampai kekurangan air.

Prasetyo berusaha mati-matian memenuhi kebutuhan keluarganya. Musim kemarau kali ini sungguh membuat batinnya diliputi kekhawatiran. Bagaimanapun kerasnya memutar otak, Prasetyo hanya bisa mendesah napas panjang. Kini istrinya tidak tahu mesti mencari utangan ke mana lagi. Catatan utang sudah menumpuk di warung. Prasetyo tak tega mengetahui istrinya ke sana kemari mencari belas kasih.

“Aku tak sanggup lagi dengan keadaan seperti ini, istriku.”

“Aku nggak apa-apa kok, Mas. Semua ini pasti bisa kita lalui bersama.”

“Tidak, untuk sementara ini mungkin aku harus keluar kampung. Mencari pekerjaan lain untuk mencukupi kebutuhan kita dan utang-utang kita yang telanjur menumpuk.”

“Mencari pekerjaan ke mana, Mas?” tanya Kinanti dengan desah napas panjang.

“Entahlah, nanti Mas pikirkan.”

“Tidak perlu, Mas. Kita harus bisa bersabar lagi, Mas.”

“Mas tahu, tapi ini juga untuk Kania, istriku. Sebentar lagi dia sudah masuk sekolah.”

Kinanti terdiam dengan kalimat terakhir suaminya itu. Kania memang sudah akan masuk sekolah. Belum lagi tanggungan utang-utangnya di warung—Gusti!

“Mas yakin, di luar kampung, Mas akan mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik,” lanjut Prasetyo.

“Entahlah Mas, tapi Kania masih butuh ayahnya.”

Kinanti tampak seperti tidak merelakan bila Prasetyo pergi mencari pekerjaan lain di luar kampung.

“Iya, aku tahu.  Sebisa mungkin aku akan segera mengabarimu istriku.”

Arsip Cerpen di Indonesia