Kinanti

Belakangan ini pabrik tempat Prasetyo bekerja sedang lesu dan terancam tidak beroperasi dalam waktu yang lama, lantaran kampungnya sedang mengalami paceklik oleh kemarau panjang. Waduk-waduk yang biasa menyimpan ribuan kubik air, kini bagai mangkok raksasa. Pasir di kedalamannya mulai tampak. Hal itu menandakan bahwa kampung akan kekurangan pasokan air. Jika pasokan air berkurang, tentu sawah-sawah akan mengering dan otomatis akan gagal panen jika tidak dibantu hujan.

Betapa nelangsa batin Prasetyo. Kelimpungan pikirannya memikirkan nasib keluarganya—Kinanti juga Kania. Bila pabrik penggilingan tutup, dia tidak tau harus mencari ke mana lagi pekerjaan demi menjaga asap dapurnya tetap ngebul. Dia hanya bisa berharap hujan segera turun agar para petani bisa kembali menggarap sawah yang kini kering itu.

***

Seharian ini Prasetyo hanya bisa duduk mencangkungi nasibnya di depan rumah. Kinanti begitu paham bagaimana kekhawatiran suaminya.

“Jangan dipikirkan sendiri permasalahan ini, Mas. Aku istrimu, akan selalu ada bersamamu.” Perempuan itu menggamit jemari suaminya erat seperti ingin mengirimkan kekuatan hatinya ke dalam tubuh suaminya itu.

“Kamu dan Kania tidak perlu khawatir, Mas pasti bisa mencari pekerjaan lain andai pabrik penggilingan itu benar-benar tutup.”

“Aku percaya kamu, Mas, dan bagaimanapun keadaannya nanti aku akan tetap setia di sampingmu.”

Senyum Kinanti masih sanggup meluluhkan hati suaminya itu. Ada raut kebahagiaan yang memancar di wajah Prasetyo. Mengetahui istrinya yang tetap tidak berkurang perasaan cintanya. Meski istrinya tahu masa-masa pelik yang mungkin akan dihadapi.

“Semoga saja, ini akan segera berakhir dengan datangnya hujan di kampung kita ini,” kesah Prasetyo sembari menatap lekat wajah istrinya. Kecantikannya masih tidak berubah bagai dahulu.

Satu jam lebih mereka duduk di teras. Udara kian dingin menggigit. Kania sedari tadi masih tertidur pulas di kamar. Prasetyo dan Kinanti segera beranjak dari duduknya. Menghilang ke balik pintu dengan segala harapan yang masih digantungnya tinggi-tinggi.

***

Arsip Cerpen di Indonesia