Kinanti

Tidak ada jawaban lagi yang keluar dari bibir Kinanti. Bibirnya terasa kelu. Langkah percakapan itu seperti menemukan jalan buntu. Prasetyo paham, bila sudah begitu dia tidak akan melanjutkan obrolannya. Mereka bercakap di kedalaman batin masing-masing.  Dipelukinya tubuh Kinanti erat. Mencoba berbagi kehangatan yang mungkin masih tersisa setelah masalah ke masalah lainnya terus bermunculan seakan tiada habisnya. *

 

Muchlis Darma Putra, lahir di Glenmore, Banyuwangi, Jawa Timur. Aktif berkarya puisi, cerpen, dan lukis. Dua buku antologi puisi tunggalnya berjudul “Kado dari Rantau” (2011) dan “Satu Sajak Merah Muda” ( 2013). Karya puisi dan cerpennya tersebar di berbagai media. Mukim di Banyuwangi.

Arsip Cerpen di Indonesia