“Tapi kerabatku bilang itu lukisanmu. Aku datang ke sini, khusus untuk melihat lukisan karyamu.”
Seolah dia lupa, karena terpesona oleh paras Kumiko yang amat laras dan keinginan murni dilontarkan bibirnya, Nakashiwa pun mempersilakan perempuan muda itu masuk kediamannya.
Mereka meletakkan sepatu beriringan di genkan.
“Kau tinggal sendiri?”
“Orangtuaku sudah meninggal.”
“Kau tak punya istri?”
Nakashiwa merasa perempuan di depannya ini terlalu lancang. Namun karena dia cantik, Nakashiwa memaafkannya seketika. Bahkan setelah mengucapkan pertanyaan ini, perempuan itu tak meminta maaf karena merasa telah mencela. Antara kejujuran dan kepolosan, barangkali mencampur jadi satu dalam watak perempuan di depannya ini, pikir Nakashiwa.
“Jadi kau benar-benar tinggal sendiri?”
“Ya.”
Kumiko Tomie langsung takjub dengan lukisan-lukisan yang terpajang maupun yang diletakkan di lantai. Semua baginya benar-benar meyakinkan.
“Lukisan ini sangat bagus. Siapa perempuan dalam lukisan ini?”
“Seorang maiko yang mengunjungi kuil Gion tahun lalu.”
“Kau melukisnya saat itu juga? Di kuil Gion?”
“Tidak. Aku memperhatikannya lamat-lamat, lalu aku pulang dan melukisnya. Beberapa lukisanku juga kukerjakan dengan cara semacam itu.”
Kumiko tak bertanya lagi, dia mengedarkan tatapannya pada lukisan-lukisan Nakashiwa. Sedang Nakashiwa menatap Kumiko dan coba menerka apa yang sebetulnya diinginkan seorang perempuan muda yang jelita ini, saat muncul tiba-tiba di kediaman pelukis tua seperti dirinya.
“Aku ingin kau melukisku dalam gaya Nanga seperti ini,” ucap Kumiko Tomie tiba-tiba sembari menunjuk lukisan maiko yang berkunjung di kuil Gion tersebut.
Nakashiwa tak begitu kaget. Walau rasanya mustahil, dia telah membayangkan kemungkinan ini.
“Kau ingin dilukis?” Nakashiwa bertanya, dan sekali lagi meyakinkan diri sendiri.
Kumiko mengangguk.
“Kalau kau tak keberatan, aku akan melukismu. Kau ingin dilukis sekarang?”