Perempuan Lukisan Nanga

Nakashiwa semringah.

“Simpanlah lukisan ini. Hadiahku karena kau mau jadi model buat lukisanku.”

“Aku hanya ingin dilukis. Kau saja yang menyimpan.”

“Itu tidak perlu. Sosokmu sudah kuingat jelas.”

“Seperti si maiko dulu?”

“Ya seperti itu. Kau sangat cantik dan aku tak bisa melupakanmu.”

“Kalau begitu, aku akan ambil hadiah darimu ini.”

Nakashiwa sangat bersemangat.

“Besok kau datang lagi ke sini, kan?”

“Aku pasti datang. Mungkin saja aku akan membawa seorang teman. Perempuan yang secantik diriku.”

“Aku ragu ada perempuan secantik dirimu.”

Kumiko tertawa. Tawa keras menyenangkan untuk didengar para pria.”

“Aku akan datang lagi.”

“Ya, kutunggu. Jangan pernah bosan berkunjung.”

Dan itulah kali terakhir Nakashiwa menatap perempuan yang dicintainya. Pada hari-hari berikut, selama apa pun Nakashiwa menunggu, perempuan itu tidak pernah berkunjung lagi ke rumahnya.

Hari-hari menunggu membuat dirinya tersiksa. Keyakinan bahwa dia dapat melukis sebaik lukisan yang diberikannya kepada Kumiko Tomie nyatanya tak pernah berhasil. Sebanyak apa pun dia melukis dan coba menggali ingatan akan sosok perempuan itu, selalu menghasilkan lukisan tak sempurna, cacat dan terasa tidak seperti Kumiko yang asli. Dia tak dapat berhenti. Dan setelah tak sabar menanti, Nakashiwa coba mencari perempuan itu mulai dari kuil-kuil terkenal di Kyoto bahkan hingga ke seluruh pelosok Nara. Namun perempuan itu tak pernah muncul, seolah menghilang. Tak ada yang pernah mengenal seorang perempuan bernama Kumiko Tomie. Dan ini sudah musim semi kesepuluh Nakashiwa mencari model lukisannya pada waktu itu.

 

Bagus Dwi Hananto, lahir di Kudus, 31 Agustus 1992. Menulis puisi dan prosa. Novelnya yang akan terbit Si Konsultan Cinta & Anjing yang Bahagia.

Arsip Cerpen di Indonesia